- Rupiah melemah ke Rp16.970 per dolar AS pada Senin pagi (16/3), tertekan eskalasi perang Iran melawan AS dan Israel yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
- Pemerintah membuka opsi Perppu untuk memperlebar defisit APBN di atas 3% akibat kenaikan harga minyak; dalam skenario terburuk defisit bisa mencapai 4,06% PDB dengan asumsi minyak US$115/barel dan rupiah Rp17.500/US$.
- Analis memperkirakan rupiah masih tertekan oleh konflik Timur Tengah dan harga minyak tinggi, dengan kisaran perdagangan Rp16.900-Rp17.000 per dolar AS, meski Bank Indonesia diperkirakan melakukan intervensi.
Ipotnews - Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang mendorong lonjakan kenaikan harga minyak dunia dan mendorong Pemerintah Indonesia berencana memperlebar defisit APBN melalui Perppu, diperkirakan menekan kurs rupiah terhadap dolar di awal pekan ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin pagi (16/3) pukul 09.12 WIB, rupiah sedang diperdagangkan melemah 12 poin atau 0,07% ke level Rp16.970 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir perdagangan Jumat (13/3) yang berada di Rp16.958 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan masih dalam tekanan di tengah kekhawatiran perang di Timur Tengah yang masih terus memanas. "Perang diperkirakan akan lama dan harga minyak yang tinggi," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Lukman menilai langkah Pemerintah yang mempertimbangkan opsi penerbitan Perppu untuk memperlebar defisit APBN lebih dari 3% juga membebani rupiah. Namun Bank Indonesia diperkirakan akan kembali masuk mengintervensi.
"Range kurs rupiah hari kemungkinan Rp16.900 - Rp17.000 per dolar AS," tutur Lukman.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka opsi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) yang disebabkan oleh lonjakan harga minyak dunia.
Airlangga menyebut harga minyak dunia yang menembus 115 dolar Amerika Serikat (AS) per barel dengan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi mendorong defisit APBN melebar hingga 4,06% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga 115, kurs rupiah kita 17.500,growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2, defisitnya 4,06 persen. Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan," kata Airlangga dalam Sidang Paripurna di Istana Negara pada Jumat (13/3).(Adhitya/AI)
Sumber : admin