Latinusa (NIKL) Pilih Konservatif
Wednesday, April 08, 2026       17:10 WIB

JAKARTA, investor.id- PT Pelat Timah Nusantara Tbk () menatap tahun 2026 dengan konservatif sejalan dengan tekanan impor tinplate masih menjadi isu utama, namun perseroan optimistis kinerja tahun ini dapat lebih baik dibanding 2025.
Direktur Utama Latinusa Jetrinaldi menyampaikan bahwa kondisi industri pada 2026 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, terutama derasnya impor tinplate dari China dan Korea yang menekan harga pasar.
"Berdasarkan pengalaman tahun lalu, kami sudah memiliki strategi mitigasi, mulai dari efisiensi pengadaan bahan baku, peningkatan produktivitas, pengendalian biaya usaha, hingga pengelolaan risiko kurs dan beban bunga," ujarnya dalam paparan publik secara virtual, Rabu (8/4/2026).
Jetrinaldi menjelaskan bahwa kondisi geopolitik global justru menghadirkan peluang bagi industri tinplate. Konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga plastik dan biaya logistik ikut menguntungkan perseroan. "Kenaikan harga plastik membuat tinplate kembali kompetitif sebagai substitusi. Selain itu, kenaikan ongkos angkut internasional berpotensi menekan impor," katanya.
Namun sayangnya, perseroan masih enggan untuk mengungkapkan angka target pendapatan dan laba 2026, satu yang pasti perseroan berharap kinerja kuartal I-2026 menunjukkan perbaikan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Langkah konservatif tersebut sejalan dengan kondisi pasar saat ini, dimana pangsa pasar Latinusa turun akibat penjualan yang merosot 10,21%, lebih dalam ketimbang konsumsi nasional yang turun 2,4%. Sementara itu, impor justru meningkat dari 40,29% menjadi 44,31%.
Maka dari itu, untuk menahan laju impor, Latinusa melakukan dua langkah utama. Pertama, mendorong pemerintah memperketat pengawasan impor yang dinilai tidak sehat dan masuk dengan harga di bawah kewajaran. Kedua, menekan biaya bahan baku dan meningkatkan efisiensi produksi sehingga harga jual lebih kompetitif. Manajemen menyebut dampak positif dari strategi tersebut sudah mulai terlihat pada peningkatan permintaan awal 2026.
Latinusa meluruskan bahwa kenaikan kontribusi penjualan bukan terjadi pada produk dry food, melainkan pada segmen susu (milk) yang naik dari 25,51% menjadi 27,59%.
"Kenaikan ini didorong pemulihan konsumsi susu siap minum (ready-to-drink milk). Sementara dry food justru turun karena perubahan perilaku konsumen yang semakin jarang membeli produk makanan kaleng besar," jelasnya.
Persediaan Latinusa turun 22,03%, lebih dalam dari penurunan penjualan. Manajemen menegaskan hal ini merupakan konsekuensi alami dari model bisnis job-order.
"Jika order turun, pembelian bahan baku dan produksi otomatis menyesuaikan. Maka persediaan bahan baku dan barang jadi ikut menurun," ujar Jetrinaldi.
Adapun permintaan nasional tinplate diperkirakan masih berada di level 200 ribu ton, belum pulih ke posisi puncak 2022 yang mencapai 250 ribu ton.
D isisi lain, menanggapi pertanyaan terkait pelemahan rupiah, manajemen menegaskan bahwa risiko kurs menjadi fokus utama karena seluruh bahan baku diimpor sementara penjualan wajib rupiah. Latinusa menerapkan strategi ketat untuk menjaga eksposur kurs, termasuk pengaturan waktu pembelian, penguatan cash flow, serta disiplin dalam lindung nilai internal.
"Tingkat kerugian kurs yang turun menjadi USD 558 ribu tahun lalu menunjukkan bahwa strategi mitigasi kami berjalan efektif," pungkas Jetrinaldi.

Sumber : investor.id
An error occurred.