Kurs Rupiah Melemah Oleh Ketegangan Geopolitik AS-Iran 
Wednesday, February 04, 2026       15:44 WIB
  • Rupiah melemah ke Rp16.776/US$ dipicu penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran.
  • Eskalasi konflik dan ketidakpastian negosiasi nuklir AS-Iran mendorong pelaku pasar berburu aset aman.
  • Data ekonomi AS yang kuat menekan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan membebani rupiah.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (4/2), seiring menguatnya dolar dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dengan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,14% ke level Rp16.776 per dolar AS, dibandingkan posisi akhir perdagangan Selasa (3/2) di Rp16.754 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari sentimen eksternal, khususnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman.
"Kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang "secara agresif" mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden tersebut terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah tinggi, dengan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan potensi serangan militer terhadap Republik Islam Iran," tulis Ibrahim publikasi risetnya sore ini.
Ia menjelaskan, insiden tersebut terjadi di tengah memanasnya ketegangan di Timur Tengah, ketika Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran. Situasi ini membuat pasar semakin berhati-hati.
Ketegangan ini diperparah dengan sikap Iran yang meminta agar pembicaraan dengan AS dilakukan di Oman, bukan di Turki, serta membatasi agenda hanya pada isu nuklir. "Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar negosiasi AS-Iran," ujar Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menambahkan bahwa data ekonomi Amerika Serikat yang solid turut memperkuat posisi dolar AS. Data manufaktur terbaru menunjukkan aktivitas industri AS kembali ekspansif.
PMI Manufaktur ISM melonjak ke 52,6 pada Januari dari 47,9 di Desember, jauh di atas ekspektasi pasar. Sementara PMI Manufaktur Global S&P juga naik menjadi 52,4. Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih bisa bersabar sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneternya.
Seiring dengan itu, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed kembali menurun, terlebih setelah bank sentral AS memutuskan menahan suku bunga pada pertemuan Januari lalu. Saat ini pasar memperkirakan sekitar 66% peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni, berdasarkan CME FedWatch.
"Fokus pasar hari ini adalah laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP, yang dijadwalkan akan dirilis malam nanti pukul 20.15 WIB," ungkap Ibrahim.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor struktural ekonomi Indonesia. Bank Dunia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
World Bank menyoroti bahwa tanpa reformasi struktural yang lebih dalam, terutama pada iklim usaha dan investasi, Indonesia akan sulit naik kelas. Produktivitas perusahaan besar masih relatif rendah dan tidak meningkat seiring skala usaha.
"Berdasarkan analisis World Bank terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, ditemukan bahwa ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan kurang produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berpendapatan lebih tinggi," jelas Ibrahim.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

berita terbaru