- Rupiah melemah 0,37% ke Rp18.080 per dolar AS pada Kamis (9/7) pagi, tertekan eskalasi serangan terbaru AS terhadap Iran dan sentimen risk off.
- Risalah FOMC menunjukkan sikap cenderung hawkish, dengan sejumlah pejabat The Fed menilai ada alasan untuk menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi.
- Kurs rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS, dengan fokus pasar tertuju pada konflik Timur Tengah dan data penjualan ritel domestik.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar sedang melemah pagi ini, setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangannya yang terbaru terhadap Iran, disertai rilis notulensi FOMC Federal Reserve yang cenderung hawkish.
Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (9/7) pukul 09.12 WIB, rupiah sedang diperdagangkan melemah 66 poin atau 0,37% ke level Rp18.080 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Rabu (8/7) di posisi Rp18.014 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelaku pasar haru ini lebih mewaspadai meningkatnya ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dengan Iran. "Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah," kata Lukman kepada Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Sentimen domestik sendiri juga masih lemah, dengan investor menantikan data penjualan ritel siang ini. "Range kurs rupiah diperkirakan Rp17.950 - Rp18.100 per dolar AS," ujar Lukman.
Lukman juga mengakui sinyal hawkish dari risakah terbaru the Fed juga menekan kurs rupiah. "Iya risalah pertemuan cukup hawkish, namun fokus perhatian investor lebih tertuju pada Timur Tengah," ucap Lukman.
Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut, sebuah eskalasi yang mengancam gencatan senjata yang sudah rapuh.
"Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom) telah memulai serangan tambahan terhadap Iran untuk makin melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz," kata Centcom dalam unggahan di media sosial, merujuk pada serangan terhadap kapal-kapal di jalur perairan tersebut, dikutip dari Bloomberg Technoz hari ini.
Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed dalam pertemuan kebijakan moneter terbaru mereka menilai terdapat alasan untuk menaikkan suku bunga. Namun, pada akhirnya mereka tetap mendukung keputusan mempertahankan suku bunga acuan.
Secara lebih luas, risalah rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) pada 16-17 Juni yang dirilis Rabu kemarin menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi, sementara kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja sedikit mereda.(Adhitya/AI)
Sumber : Admin