- Harga minyak stabil tipis: Brent dan WTI naik kecil setelah sempat berfluktuasi.
- Ketegangan Selat Hormuz dan insiden kapal masih ganggu pasokan energi.
- Pasar dipengaruhi konflik Iran, kebijakan AS-China, serta risiko suplai global.
Ipotnews - Harga minyak relatif stabil, Kamis, setelah sempat berfluktuasi tajam di tengah laporan meningkatnya aktivitas kapal di Selat Hormuz, sementara insiden serangan terhadap kapal dan penyitaan kapal lain kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi akibat perang Iran.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik tipis 9 sen atau 0,09 persen menjadi USD105,72 per barel, setelah menyentuh level tertinggi harian di USD107,13, namun sebagian besar waktu bergerak di zona negatif, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (14/5) atau Jumat (15/5) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), ditutup menguat 15 sen atau 0,15 persen ke posisi USD101,17 per barel.
Sehari sebelumnya, harga minyak justru merosot lebih dari USD2 untuk Brent dan lebih dari USD1 untuk WTI, seiring kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS yang dapat menekan permintaan energi global di tengah tekanan inflasi.
Di sisi geopolitik, sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan di Gedung Putih menyebut pemerintah Amerika Serikat tengah berupaya meredam dampak ekonomi dan politik dari perang yang melibatkan Iran.
Gedung Putih juga menyampaikan bahwa dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, kedua pihak sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk kelancaran arus energi global. Xi disebut menyatakan bahwa "rejuvenasi China" dan "Make America Great Again" dapat berjalan beriringan.
Kepala Ekonom Matador Economics, Tim Snyder, menilai pasar mempertanyakan apakah Iran sengaja melonggarkan sebagian jalur pelayaran demi menjaga keseimbangan diplomatik, khususnya terkait posisi China dalam konflik tersebut.
Menurut pernyataan Gedung Putih, Xi Jinping juga menunjukkan minat untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz. Namun, China sebelumnya tidak banyak membeli minyak AS dan terakhir kali tercatat tidak mengimpor sejak Mei 2025 akibat tarif impor 20 persen dalam perang dagang kedua negara.
Selat Hormuz dilaporkan masih berada dalam kondisi terganggu sejak perang Iran pecah pada akhir Februari. Iran melalui Korps Garda Revolusi menyatakan sekitar 30 kapal telah melintasi selat tersebut sejak Rabu malam, namun jumlah itu masih jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik.
Teheran juga dilaporkan memperkuat kontrol atas jalur itu, termasuk menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak serta gas alam cair dari kawasan tersebut.
Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, mengutip sumber yang menyebut bahwa Teheran mulai mengizinkan transit sejumlah kapal China. Sebelumnya, sebuah supertanker China yang membawa 2 juta barel minyak mentah Irak berhasil melintasi selat tersebut setelah terjebak di Teluk selama lebih dari dua bulan.
Kapal tanker berbendera Panama yang dikelola perusahaan Jepang Eneos juga dilaporkan berhasil melewati jalur yang sama berdasarkan data pelacakan kapal LSEG .
Namun, ketegangan tetap meningkat setelah kapal kargo India yang membawa ternak dari Afrika menuju Uni Emirat Arab tenggelam di lepas pantai Oman. Pada saat yang sama, Badan Keamanan Maritim Inggris UKMTO melaporkan adanya insiden kapal yang dinaiki pihak tidak dikenal di pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, yang kemudian diarahkan menuju wilayah Iran.
Analis PVM, Tamas Varga, mengatakan peningkatan jumlah kapal yang diizinkan melintas memang berdampak pada sentimen pasar, tetapi belum cukup untuk mengubah keseimbangan pasokan dan permintaan secara signifikan. Dia menilai kondisi ini dapat membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, namun belum cukup untuk menekan harga secara berkelanjutan.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa ekonomi global kini mulai bergerak menuju skenario "adverse" di tengah perang dan penutupan Selat Hormuz, yang dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,5 persen tahun ini, dari 3,4 persen pada 2025.
Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) menyebut pasokan minyak global tahun ini diperkirakan tidak akan mampu memenuhi permintaan sepenuhnya, sehingga persediaan minyak akan terkuras dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah merosot 4,3 juta barel menjadi 452,9 juta barel pada pekan yang berakhir 8 Mei. Namun, stok distilat justru meningkat, bertentangan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan. (Reuters/AI)
Sumber : Admin