- OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,8% pada 2026 akibat kenaikan biaya energi yang menekan konsumsi dan investasi.
- Jika gangguan produksi energi dan pelayaran di Timur Tengah berlanjut hingga 2027, pertumbuhan global dapat merosot menjadi 2,1% pada 2026 dan 1,8% pada 2027.
- Skenario tersebut berpotensi menjadikan 2027 sebagai tahun dengan pertumbuhan ekonomi global terlemah abad ini, di luar periode krisis keuangan 2009 dan pandemi Covid-19 pada 2020.
- OECD Peringatkan Risiko Perlambatan Ekonomi Global yang Lebih Dalam
Ipotnews - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi ( OECD ) memperingatkan bahwa ekonomi dunia berpotensi mengalami perlambatan signifikan tahun ini akibat lonjakan biaya energi yang menggerus daya beli konsumen serta menahan investasi pelaku usaha. Risiko tersebut dapat menjadi jauh lebih serius apabila konflik di Timur Tengah berkepanjangan hingga 2027.
Dalam laporan prospek ekonomi kuartalannya, lembaga riset yang berbasis di Paris itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 2,8% pada 2026. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa produksi energi di kawasan Teluk Persia mulai pulih pada akhir bulan ini dan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal.
Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan perlambatan tajam dibandingkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,4% yang tercatat pada tahun lalu.
Prospek tersebut dibayangi ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik sejauh ini belum membuahkan hasil, sementara Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat baku serang pada Selasa dalam salah satu eskalasi konflik paling intens dalam beberapa bulan terakhir.
OECD menilai bahwa apabila gangguan terhadap produksi energi dan aktivitas pengiriman di kawasan tersebut berlanjut hingga tahun depan, pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 2,1% pada 2026 dan semakin melemah menjadi 1,8% pada 2027.
Dalam skenario terburuk tersebut, 2027 akan menjadi tahun dengan pertumbuhan ekonomi global paling lemah sepanjang abad ini, kecuali periode pandemi Covid-19 pada 2020 dan krisis keuangan global pada 2009.
Kepala Ekonom OECD , Stefano Scarpetta, mengatakan skenario tersebut bukanlah proyeksi utama, namun menggambarkan besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung dunia apabila penyelesaian konflik membutuhkan waktu lama.
"Ini merupakan guncangan yang sangat buruk dan dapat berlangsung lama. Kami berharap situasinya tidak berkembang ke arah tersebut. Durasi konflik sangat menentukan besarnya konsekuensi ekonomi dan sosial yang ditimbulkan," ujar Scarpetta.(Dow Jones Newswires)
Sumber : admin