- Minyak naik akibat eskalasi konflik AS-Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
- Brent naik ke USD91,54 dan WTI ke USD84,70 per barel.
- Pasar menanti data persediaan minyak AS dari EIA.
Ipotnews - Harga minyak melanjutkan penguatan, Rabu pagi, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global setelah Amerika kembali melancarkan serangan terhadap target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut. Kekhawatiran semakin meningkat setelah Kuwait melaporkan adanya serangan drone dari Iran.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 0,58 persen atau 53 sen menjadi USD91,54 per barel pada pukul 07.33 WIB, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, Rabu (22/7).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 0,43 persen atau 36 sen menjadi USD84,70 per barel dalam perdagangan dengan volume terbatas.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam lima pekan pada perdagangan Selasa. Penguatan sebelumnya dipicu serangan AS terhadap sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran, yang kemudian diikuti serangan Iran terhadap fasilitas Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Militer AS menyatakan telah memulai serangan terbaru terhadap Iran pada Selasa malam waktu Amerika Serikat atau Rabu dini hari waktu Iran. Serangan tersebut dilakukan tidak lama setelah militer Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang mencegat drone Iran pada Rabu pagi.
Rentetan aksi saling serang antara kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan energi dunia. Ancaman semakin besar setelah kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran membuka front baru dalam konflik tersebut dengan mengancam akan menyerang kapal-kapal yang membawa minyak Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb serta mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Selat Bab el-Mandeb, jalur perairan strategis di pintu masuk selatan Laut Merah, kini menjadi rute yang semakin penting bagi ekspor minyak Arab Saudi setelah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz menurun tajam sejak kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh pada awal bulan ini.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan minyak internasional.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan biaya operasi militer Amerika Serikat dalam konflik Iran telah mencapai USD37,5 miliar. Angka tersebut meningkat hampir USD8 miliar dibandingkan estimasi publik sebelumnya.
Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan data persediaan minyak Amerika Serikat. Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah dan produk distilat AS meningkat pada pekan lalu, sementara persediaan bensin mengalami penurunan, menurut sumber pasar.
Data API tersebut menjadi perhatian investor menjelang rilis laporan resmi persediaan minyak dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin