- Emas turun 0,9% ke USD4.067,39 per ons.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed naik menjadi 69%.
- BofA pangkas proyeksi harga emas 2026 ke USD4.360 per ons.
Ipotnews - Emas merosot, Rabu, setelah lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Sentimen pasar semakin tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang ditujukan untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir, sehingga meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
Emas spot turun 0,9% menjadi USD4.067,39 per ons pada pukul 01.10 WIB, setelah menyentuh level terendah sejak 1 Juli pada awal sesi, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Rabu (8/7) atau Kamis (9/7) dini hari WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup melemah 1,8% ke posisi USD4.082,40 per ons.
Direktur High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pelemahan harga emas dipicu oleh meningkatnya eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, dengan semakin kecilnya peluang tercapainya gencatan senjata, hampir seluruh aset berisiko mengalami tekanan, termasuk emas.
Ketegangan meningkat setelah Iran menyatakan telah menyerang fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan pasukan AS terhadap sasaran-sasaran Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah insiden terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi itu mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%.
Kenaikan harga energi dikhawatirkan akan memperburuk tekanan inflasi dan berpotensi memaksa bank sentral kembali menaikkan suku bunga guna meredam lonjakan harga. Meski selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve pada pertemuan 16-17 Juni menunjukkan pembuat kebijakan semakin mengkhawatirkan inflasi yang masih tinggi. Sejumlah pejabat menilai tekanan harga mulai meluas dan berpotensi memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Risalah itu juga mengungkapkan bahwa beberapa peserta rapat bahkan melihat alasan yang cukup kuat untuk segera menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut.
Sejalan dengan perkembangan itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada pertemuan September kembali meningkat. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 69%, naik dari 62% sehari sebelumnya.
Sementara itu, Bank of America dalam laporan yang diterbitkan Selasa memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi USD4.360 per ons. Revisi tersebut didasarkan pada prospek kebijakan Federal Reserve yang dinilai lebih hawkish.
Meski demikian, Bank of America tetap meyakini harga emas masih berpotensi menembus level USD5.000 per ons setelah siklus pengetatan moneter berakhir.
Logam mulia lainnya, harga perak spot anjlok 2,9% menjadi USD58,25 per ons. Harga platinum merosot 3,6% ke posisi USD1.580,92 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 4,5% jadi USD1.219,84 per ons. (Reuters/AI)
Sumber : Admin