Konflik AS-Iran Ancam Ganggu Pasokan Energi Global, Minyak Melambung 3%
Wednesday, July 08, 2026       14:22 WIB
  • Minyak naik lebih dari 3% akibat ketegangan AS-Iran.
  • Brent ke USD76,50 dan WTI USD72,65 per barel.
  • Risiko gangguan Selat Hormuz menopang harga.

Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari 3%, Rabu, setelah Amerika dan Iran terlibat aksi serangan udara serta Washington memberlakukan kembali sanksi penjualan minyak mentah terhadap Teheran.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara mulai terancam dan pasokan energi dari Timur Tengah dapat kembali terganggu.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melambung USD2,34 atau 3,16% menjadi USD76,50 per barel pada pukul 14.03 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Singapura, Rabu (8/7).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melesat USD2,21 atau 3,14% menjadi USD72,65 per barel.
Kedua harga acuan tersebut juga menguat sekitar 3% pada perdagangan Selasa setelah pemerintah Amerika Serikat mencabut izin umum yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak mentahnya.
Analis ING menyebut pencabutan izin itu tidak secara langsung mengubah fundamental pasar minyak global. Namun, langkah itu memberikan dampak besar terhadap sentimen investor karena meningkatkan risiko runtuhnya kesepakatan sementara antara Amerika dan Iran.
"Pencabutan izin tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa kesepakatan sementara antara kedua negara dapat kembali gagal," ujar analis ING dalam laporan risetnya.
Ketegangan terbaru bermula setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, menurut US Central Command.
Tidak lama kemudian, Garda Revolusi Iran menyatakan menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait, Rabu pagi.
Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan eskalasi tersebut menjadi pengingat bagi pasar bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat rentan terhadap gangguan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi faktor berlawanan dengan sentimen sebelumnya yang memperkirakan pasar minyak akan mengalami kelebihan pasokan. Kekhawatiran baru terkait pasokan berpotensi mendorong pelaku pasar yang sebelumnya mengambil posisi jual besar-besaran untuk menutup posisi mereka.
Kavonic menambahkan, apabila ketegangan terus berlangsung dan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap berada di bawah 50% dari tingkat sebelum konflik, tekanan pasokan dapat menjadi faktor pendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Setelah Amerika dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata bulan lalu, harga minyak sempat turun kembali ke level sebelum perang. Kondisi tersebut mendorong banyak trader membangun posisi short besar pada kontrak berjangka minyak, yaitu spekulasi bahwa harga akan terus turun.
Kejatuhan harga sebelumnya dipicu oleh ekspektasi bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah yang sempat tertahan akibat konflik akan kembali membanjiri pasar.
Namun, serangkaian serangan terbaru kembali mengubah sentimen pasar. Iran tidak mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut, tetapi Qatar menuduh Iran berada di balik serangan yang salah satunya menargetkan kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar.
Kapal tersebut dilaporkan terkena serangan drone yang menyebabkan kebakaran di ruang mesin. Selain itu, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi yang diduga merupakan kapal supertanker Wedyan juga mengalami kerusakan di perairan dekat Oman, menurut sumber keamanan maritim. Penyebab insiden tersebut masih belum diketahui.
Risiko Pasokan Meningkat
Serangkaian serangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang berlangsung mengangkut kargo energi setara sekitar seperlima pasokan energi global.
Iran kini berupaya memperkuat kendalinya atas jalur tersebut dengan meminta kapal-kapal menggunakan rute yang lebih dekat dengan wilayah pantainya dibandingkan jalur yang lebih dekat dengan Oman, negara lain yang berbatasan dengan Selat Hormuz.
Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan bahwa jalur tersebut harus tetap terbuka bagi seluruh kapal internasional seperti sebelum konflik berlangsung.
Sejak perang dimulai, sejumlah negara menggunakan cadangan minyak nasional untuk menutup kekurangan pasokan akibat gangguan distribusi.
Sumber pasar pada Selasa menyebutkan stok minyak mentah Amerika Serikat kembali mengalami penurunan, pekan lalu, berdasarkan data American Petroleum Institute (API). Analis yang disurvei  Reuters  sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah AS akan berkurang sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli. (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin