Kompas100 Terkoreksi 1,6% Sepekan; KPIG Melonjak 19,7%, BBCA Nilai Transaksi Tertinggi
Monday, September 14, 2026       08:16 WIB
  • Kompas100 turun 1,6% menjadi 858 sepanjang sepekan hingga Jumat (11/9), namun koreksinya lebih terbatas dibandingkan IHSG (-1,9%) dan DJIA (-2,1%), dengan total nilai transaksi Rp55,11 triliun.
  • menjadi Top Gainer dengan kenaikan 19,7%, sedangkan mencatat penurunan terdalam sebesar 15,4% dalam sepekan.
  • memimpin nilai transaksi Rp10,77 triliun, sementara menjadi saham teraktif berdasarkan volume 406,41 juta lot dan mencatat frekuensi transaksi tertinggi 619.058 kali.

Ipotnews - Indeks Kompas100 mencatat kinerja negatif pada perdagangan sepekan hingga Jumat (11/9), setelah mencatatkan total nilai transaksi sebesar Rp55,11 triliun.
Berdasarkan data aplikasi IPOT , indeks yang mengukur kinerja 100 saham pilihan tersebut turun 1,6% dalam sepekan menjadi 858, dibandingkan posisi sebelumnya di level 872.
Meski terkoreksi, penurunan indeks lebih terbatas dibandingkan dua indeks pembanding yang tercantum dalam aplikasi IPOT . Dalam periode yang sama, IHSG turun 1,9%, sedangkan Dow Jones Industrial Average ( DJIA ) melemah 2,1%.
Data IPOT menunjukkan indeks mencatat perubahan -13 poin selama sepekan, dengan level tertinggi berada di 883 dan terendah 848. Pada perdagangan terakhir, Jumat kemarin, indeks ditutup di level 858, turun 0,9% atau 8 poin.
Community Lead PT IndoPremier Sekuritas, David Kurniawan Soebekti menjelaskan penyebab pelemahan indeks dalam seminggu terakhir antara lain berasal dari tekanan geopolitik dan lonjakan harga energi. "Eskalasi konflik geopolitik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak mentah global, baik WTI maupun Brent, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi perlambatan ekonomi," kata David saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp, Minggu (13/9).
Selain itu, David mengatakan kekhawatiran inflasi menahan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. "Fedspeak yang berorientasi hawkish kemudian mendorong kenaikan yield imbal hasil obligasi AS dan memicu arus keluar modal atau capital outflow dari aset berisiko di emerging markets," ujar David.
David memproyeksikan indeks cenderung bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan sepekan ke depan. Pergerakan sangat bergantung pada rilis data inflasi global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Meski demikian, David melihat masih terdapat peluang pembalikan arah dalam jangka pendek apabila kondisi makroekonomi domestik dan nilai tukar tetap mendukung. "Jika rilis data makroekonomi domestik tetap stabil dan nilai tukar terkonfirmasi kondusif, terdapat peluang pembalikan arah jangka pendek atau technical rebound secara selektif," jelas David.
Di tengah tekanan indeks tersebut, sejumlah saham konstituen masih mampu mencatat kenaikan signifikan. menjadi saham dengan kenaikan tertinggi, yakni 19,7% dalam sepekan.
Berikut lima saham dengan kinerja terbaik atau Top Gainers indeks selama sepekan berdasarkan data IPOT :
PT MNC Land Tbk () -- naik 19,7%; nilai transaksi Rp616,6 miliar; harga terakhir Rp79;
Impack Pratama Industri Tbk () -- naik 14,7%; nilai transaksi Rp331,2 miliar; harga terakhir Rp1.720;
PT Amman Mineral Internasional Tbk () -- naik 10,7%; nilai transaksi Rp2,08 triliun; harga terakhir Rp4.860;
PT AKR Corporindo Tbk () -- naik 9,7%; nilai transaksi Rp281,3 miliar; harga terakhir Rp1.520;
PT Energi Mega Persada Tbk () -- naik 9,0%; nilai transaksi Rp941,2 miliar; harga terakhir Rp1.460.
Sebaliknya, tekanan paling dalam dialami saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk () yang terkoreksi 15,4% dalam sepekan.
Lima saham dengan penurunan terdalam (Top losers) besar dalam sepekan adalah:
PT Indokripto Koin Semesta Tbk () -- turun 15,4%; nilai transaksi Rp333,0 miliar; harga terakhir Rp715;
PT TBS Energi Utama Tbk () -- turun 7,6%; nilai transaksi Rp44,5 miliar; harga terakhir Rp550;
PT Bank Neo Commerce Tbk () -- turun 7,4%; nilai transaksi Rp39,8 miliar; harga terakhir Rp250;
PT Industries Indonesia Tbk () -- turun 7,1%; nilai transaksi Rp320,5 miliar; harga terakhir Rp655;
PT Bukalapak.com Tbk () -- turun 7,0%; nilai transaksi Rp63,6 miliar; harga terakhir Rp107.
Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun Kompas100 masih berada dalam tren negatif, tekanan terhadap indeks sepanjang pekan relatif lebih ringan dibandingkan IHSG dan Dow Jones.
Di sisi lain, pergerakan saham-saham individual di dalam indeks menunjukkan disparitas yang cukup lebar, dengan melonjak hampir 20%, sementara terkoreksi lebih dari 15%.
Selanjutnya, aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sepekan hingga Jumat kemariun menunjukkan sejumlah emiten menjadi pusat perhatian investor, baik jika diukur berdasarkan nilai transaksi (value) maupun jumlah saham yang diperdagangkan (lot).
Data seminggu terakhir menunjukkan saham PT Bumi Resources Tbk () menjadi emiten yang paling menonjol karena masuk tiga besar pada kedua indikator tersebut. mencatat nilai transaksi terbesar kedua sekaligus menjadi saham dengan jumlah lot yang diperdagangkan paling tinggi selama sepekan.
Berikut tiga emiten dengan nilai transaksi terbesar dan tiga emiten dengan jumlah lot perdagangan tertinggi:
Berdasarkan nilai transaksi (Value):
PT Bank Central Asia Tbk () -- menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi, mencapai Rp10,77 triliun, dengan volume 16.531.236 lot dan frekuensi 302.198 kali;
PT Bumi Resources Tbk () -- membukukan nilai transaksi Rp8,93 triliun, dengan volume mencapai 406.405.968 lot dan frekuensi 619.058 kali;
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk () -- mencatat nilai transaksi Rp5,86 triliun, dengan volume 17.512.158 lot dan frekuensi 329.794 kali.
Berdasarkan jumlah lot:
PT Bumi Resources Tbk () -- menjadi saham dengan jumlah lot perdagangan tertinggi, mencapai 406.405.968 lot, dengan nilai transaksi Rp8,93 triliun dan frekuensi 619.058 kali;
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk () -- mencatat perdagangan sebanyak 233.518.900 lot, dengan nilai transaksi Rp670,8 miliar dan frekuensi 12.458 kali;
PT MNC Tourism Indonesia Tbk () -- membukukan volume perdagangan 157.073.640 lot, dengan nilai transaksi Rp1,26 triliun dan frekuensi 242.112 kali.
Data tersebut memperlihatkan perbedaan karakter saham yang paling aktif jika menggunakan ukuran nilai transaksi dan jumlah lot. memimpin dari sisi nilai transaksi, sedangkan menjadi yang paling dominan dari sisi jumlah lot sekaligus memiliki frekuensi transaksi tertinggi di antara saham-saham yang tercantum dalam data IPOT .
Tingginya nilai transaksi , , dan mencerminkan besarnya aktivitas dana yang berpindah pada saham-saham tersebut. Sementara itu, dominasi , , dan berdasarkan jumlah lot menunjukkan tingginya volume unit saham yang berpindah tangan sepanjang perdagangan sepekan.(Adhitya/AI)

Sumber : Admin
An error occurred.