Kilau Emas Meredup di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Apresiasi Dolar
Friday, May 15, 2026       05:18 WIB
  • Emas turun akibat penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak.
  • Pasar mencermati konflik Timur Tengah serta pertemuan Trump-Xi.
  • Peluang penurunan suku bunga the Fed makin kecil karena inflasi AS masih tinggi.

Ipotnews - Emas melemah, Kamis, terbebani penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak setelah muncul laporan mengenai penyitaan dan tenggelamnya kapal di sekitar kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Harga emas spot turun 0,4 persen menjadi USD4.669,48 per ons pada pukul 01.48 WIB, sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Juni ditutup melemah 0,4 persen ke posisi USD4.685,30 per ons, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Kamis (14/5) atau Jumat (15/5) dini hari WIB.
Penguatan dolar AS sebesar 0,3 persen membuat emas yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan logam mulia tersebut.
Di saat yang sama, harga minyak dunia bergerak naik setelah beredar kabar mengenai tenggelamnya kapal kargo India dan penyitaan kapal lain di lepas pantai Uni Emirat Arab yang disebut sedang menuju wilayah perairan Iran. Sebelumnya harga minyak sempat melemah setelah media pemerintah Iran melaporkan kapal-kapal China telah melintasi Selat Hormuz.
Vice President Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan perkembangan di Selat Hormuz menjadi faktor yang menopang kenaikan harga minyak dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi di Amerika akan bertahan lebih lama.
Menurut dia, kombinasi antara lonjakan harga energi dan data inflasi Amerika yang masih tinggi membuat dolar menguat dan memberi tekanan terhadap harga emas.
Prospek terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve juga semakin memudar setelah data inflasi produsen dan konsumen AS sepanjang April menunjukkan kenaikan tajam yang dipicu sektor energi. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat kini semakin kecil.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, memperingatkan bahwa harga emas berisiko mengalami penurunan lebih dalam apabila konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.
Dia menilai gangguan terhadap persediaan dan distribusi energi dapat menyebabkan biaya energi melompat lebih tinggi lagi dan memicu tekanan inflasi tambahan di pasar global.
Meski emas selama ini dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya justru membebani logam tersebut karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi geopolitik, Presiden Xi Jinping mengatakan kepada Donald Trump bahwa pembicaraan perdagangan antara China dan AS menunjukkan kemajuan. Namun, Xi juga menegaskan bahwa perbedaan pandangan terkait Taiwan dapat mengganggu hubungan kedua negara. Menariknya, ringkasan resmi pemerintah AS mengenai pertemuan tersebut tidak menyinggung isu Taiwan.
Sementara itu, pemerintah India mengumumkan pembatasan impor emas maksimal 100 kilogram dalam skema advance authorization yang selama ini digunakan untuk mendukung industri tertentu.
Logam mulia lainnya, harga perak spot anjlok 4,1 persen menjadi USD84,36 per ons. Harga platinum merosot 3,3 persen ke posisi USD2.066,75 per ons, sedangkan paladium kehilangan 3,5 persen jadi USD1.447,73 per ons. (Reuters/AI)

Sumber : Admin