Kendala Logistik Picu Lonjakan Harga Semen di Sumut, KPPU Bakal Investigasi
Wednesday, August 12, 2026       10:07 WIB
  • Produsen semen akui kendala logistik seperti antrean BBM, keterbatasan kontainer, dan gangguan mesin memicu lonjakan harga.
  • SIG sebut penjualan naik 16 persen di Sumut, namun terkendala pasokan batubara untuk produksi.
  • KPPU dalami rantai pasok guna memastikan apakah kenaikan harga proporsional dengan biaya produksi dan distribusi.

Ipotnews - Sejumlah produsen semen mengakui bahwa lonjakan harga semen di Sumatera Utara (Sumut) yang mencapai 25-40 persen dipicu oleh kendala logistik, distribusi bahkan gangguan produksi sehingga biaya produksi terkerek.
Perwakilan Indocement menyebutkan adanya hambatan pengiriman dari Pulau Jawa ke Sumatera Utara melalui Pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan. Sementara itu, Semen Indonesia Group (SIG) menegaskan penjualan semen di Sumut hingga Juli 2026 naik 16 persen.
Kenaikan harga tersebut antara lain karena kebutuhan pemulihan pascabencana di Aceh, namun produksi terkendala pasokan batu bara. Adapun Semen Merah Putih menyampaikan gangguan mesin pabrik dan antrean BBM solar turut memengaruhi harga jual.
Menanggapi hal itu, Kepala Kanwil I KPPU Ridho Pamungkas menekankan perlunya penelusuran lebih jauh atas rantai pasok semen di Sumut.
Dari hasil diskusi, belum terdapat informasi yang menunjukkan adanya gangguan produksi secara umum yang menyebabkan terhentinya pasokan semen. Namun, sejumlah pelaku usaha menyampaikan adanya kendala logistik dan distribusi, khususnya pada Mei-Juni 2026. Kenaikan biaya BBM dan transportasi, antrean BBM, keterbatasan kontainer serta peningkatan biaya pelayaran disebut turut berpengaruh pada distribusi semen dari produsen menuju pasar.
"Kalau dari sisi kapasitas produksi dan pasokan sebenarnya masih tersedia, tetapi konsumen tetap kesulitan memperoleh semen, kita perlu melihat di titik mana terjadi bottleneck antara produsen dan pasar," kata Ridho dalam keterangannya, Rabu (12/8).
Ridho menambahkan, KPPU akan mendalami struktur biaya, distribusi, serta hambatan logistik untuk memastikan apakah kenaikan harga memang proporsional dengan biaya produksi dan transportasi. Pihaknya juga akan melihat beberapa indikator seperti kapasitas angkutan, ketersediaan kontainer, proses loading, waktu tunggu, serta komponen biaya dalam pengiriman semen ke Sumatera Utara.
"Kalau persoalannya adalah kenaikan BBM dan biaya logistik, kita perlu melihat seberapa besar kenaikan biaya tersebut dan seberapa besar pengaruhnya terhadap harga semen. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa dengan kondisi yang sama, harga semen di Sumatera Utara dapat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain atau produk lain yang juga diangkut dari luar provinsi," katanya.(Marjudin/AI)

Sumber : Admin