Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga Juli, Jumat (18/7), dengan mencatatkan kenaikan 0,34% menjadi 7.312 dari posisi 7.047 pada sesi penutupan pekan sebelumnya, sekaligus membukukan reli sepanjang dua pekan terakhir. Meskipun demikian investor asing mencatatkan arus keluar ekuitas sebesar sebesar USD118 juta sepanjang pekan ini.
Weely Commentary, PT Ashmore Asset Management Indonesia menyoroti sejumlah peristiwa penting sepanjang pekan ini, antara lain sebagai berikut;

Apa yang terjadi selama sepekan terakhir?
Kenaikan IHSG pekan ini didukung oleh sektor yang berkinerja baik, antara lain sektor Teknologi dan Infrastruktur yang masing-masing melesat +19,88% dan +18,35%. Sektor yang tertinggal adalah sektor Consumer Cyclicals dan Keuangan yang masing-masing melorot -3,59% dan -0,68%.
Performa terbaik minggu ini dicatatkan oleh harga CPO (+4,72%) dan Indeks IHSG (+3,75%), namun terjadi koreksi pada harga Batu Bara (-2,61%) dan Minyak Mentah (-0,50%).
Ashmore juga mencatat, rilis data inflasi di AS pekan ini menunjukkan inflasi utama tahunan terus meningkat namun sesuai dengan ekspektasi, dengan kenaikan harga terutama pada makanan dan layanan transportasi. Inflasi inti mengalami kenaikan pertama setelah tiga bulan yang sebelumnya menyentuh level terendah dalam empat tahun sebesar 2,8%.
Di sisi lain, data penjualan ritel bulanan AS tumbuh setelah dua bulan berturut-turut mengalami penurunan. Di Kanada, data inflasi juga meningkat namun tetap berada dalam kisaran target bank sentral.
Di kawasan Eropa, sentimen ekonomi mengalami sedikit perbaikan namun masih di bawah ekspektasi. Tingkat produksi industri bulanan meningkat lebih dari yang diperkirakan dan berbalik arah dari kontraksi pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, Jerman mengalami peningkatan indikator sentimen ekonominya, tertinggi sejak Februari 2022, meskipun masih ada kekhawatiran terhadap kondisi perdagangan global. Di sisi lain, inflasi utama di Inggris naik melebihi ekspektasi, mencapai level tertinggi sejak Januari 2024 terutama karena kenaikan harga transportasi yang didorong oleh biaya bahan bakar.
Bertolak belakang dengan sebagian besar negara yang mengalami percepatan inflasi, Jepang justru mengalami pelonggaran lanjutan pada inflasi utamanya dan sesuai dengan ekspektasi. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga listrik dan gas yang lebih lambat.
Sementara itu, China mencatat pertumbuhan PDB kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan namun masih menjadi laju paling lambat sejak kuartal ketiga 2024. Kondisi ini terjadi seiring dengan dukungan kebijakan Beijing terhadap pertumbuhan domestik.
Bank Indonesia memangkas suku bunga, meskipun 18 dari 33 ekonom memperkirakan tidak ada perubahan, dengan tujuan utama mendukung pertumbuhan domestik.
Langkah menentukan
Ashmore mencermati, pekan ini, data inflasi dari berbagai negara dirilis, di mana inflasi AS meningkat seperti yang telah diperkirakan secara luas. Tren serupa juga terjadi di Kanada di mana inflasi naik namun tetap berada dalam kisaran target bank sentral. Rilis data inflasi yang lebih tinggi baru-baru ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam jangka pendek, dan pasar memperkirakan pemangkasan pertama dapat terjadi secepatnya pada bulan September.
Beberapa peristiwa minggu ini yang mempengaruhi sentimen pasar, diantaranya adalah pernyataan Presiden Trump tentang pemberhentian Powell sebagai Ketua The Fed yang kemudian segera ditarik kembali, serta pengumuman kesepakatan dagang dengan Indonesia.
Pernyataan Trump mengenai Powell, menurut Ashmore bukanlah hal baru dan sebelumnya Ashmore telah membahas bahwa hal ini tidak mungkin terjadi. Apalagi penting bagi The Fed untuk tetap menjadi lembaga independen yang bebas dari pengaruh politik. "Jika politik benar-benar mempengaruhi bank sentral, maka akan ada risiko kenaikan inflasi yang signifikan (yang saat ini sudah mendapat tekanan dari kebijakan tarif global dan ketidakpastiannya)," tulis Ashmore.
Selain itu, Ashmore berpendapat, pasar mungkin akan meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko inflasi dan pada akhirnya meningkatkan suku bunga jangka panjang, memperburuk kondisi fiskal secara keseluruhan. "Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk mengurangi defisit fiskal karena tingkat suku bunga riil tetap terlalu tinggi," imbuh Ashmore.
Ashmore menilai, perkembangan terbaru terkait kesepakatan dagang Indonesia dengan AS, yang menurunkan tarif dari awalnya 32% pada Liberation Day menjadi 19% saat ini, merupakan suatu perbaikan dan memberikan sedikit kelegaan. Tarif ini lebih rendah dibandingkan tarif Vietnam sebesar 20% dan dapat menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih menguntungkan, di mana sektor utama yang diuntungkan adalah tekstil.
"Meski demikian, rincian lebih lanjut masih perlu dijelaskan dan posisi kompetitif Indonesia akan sangat bergantung pada tarif yang dinegosiasikan AS dengan negara-negara lain," ungkap Ashmore.
Sementara itu, Bank Indonesia (secara tak terduga bagi sebagian kecil ekonom) memangkas suku bunga pada rapat kebijakan pekan ini menjadi 5,25% lebih dulu dari The Fed, seperti yang telah diperkirakan Ashmore. "Langkah ini bertujuan mendukung perekonomian domestik karena inflasi diperkirakan tetap terkendali disertai stabilnya nilai tukar Rupiah." sebut Ashmore.
Selain itu, Ashmore melihat bahwa BI mengambil sikap yang lebih dovish untuk mendukung ekonomi sambil terus menilai ruang pemangkasan tambahan, tergantung pada kondisi global dan domestik. "Berdasarkan data terbaru, pasar memperkirakan BI akan memangkas suku bunga setidaknya sekali lagi sebelum akhir tahun ini," Ashmore menambahkan.
Secara keseluruhan, Ashmore berpendapat, setiap kejelasan atas kebijakan dagang yang volatil merupakan kabar baik karena investor menyesuaikan ekspektasi. Pemangkasan suku bunga oleh BI juga semakin menunjukkan independensi dan keberanian mereka untuk melangkah lebih dahulu dari The Fed, sementara nilai tukar Rupiah tetap stabil di sekitar 16.290 pada penutupan pasar meski pemangkasan ini mengejutkan konsensus.
Dalam kondisi saat ini di mana investor global tetap berhati-hati terhadap mata uang USD dan pasar saham AS secara umum, Ashmore melihat adanya perbedaan arah yang semakin besar antara imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dan imbal hasil US Treasury yang perlahan naik selama jeda kebijakan The Fed.
Imbal hasil obligasi IndoGB 10 tahun telah turun sekitar 68 bps sejak puncaknya baru-baru ini dan Ashmore percaya tren ini dapat berlanjut karena penerbitan obligasi akan tetap ketat sepanjang tahun ini.
Ashmore merekomendasikan untuk tetap terdiversifikasi di antara saham likuid dengan fundamental kuat serta obligasi pemerintah. "Mulai bulan ini, kami berencana mendistribusikan hasil dividen yang lebih tinggi untuk ADON dan ADOUN (indikatif masing-masing sebesar 6% dan 5,76% per tahun) dalam bentuk dividen bulanan, yang kami yakini dapat membantu mengoptimalkan imbal hasil investor selama siklus penurunan suku bunga ini. Jumlah nominal dividen akan diumumkan sebelum distribusi." (Ashmore)

Sumber : Admin