AI News - Iran dan Oman mengumumkan pada 6 Agustus 2026 telah mencapai kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz, selat yang menjadi jalur bagi sekitar 20 % perdagangan minyak dan LNG dunia. Langkah itu membuka peluang pembukaan kembali jalur pelayaran, sementara pasar mengamati pergerakan harga minyak.
Poin Penting
- Kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz diumumkan Iran dan Oman pada 6 Agustus 2026.
- Selat Hormuz mengalirkan kira-kira 20 % total perdagangan minyak dan LNG dunia.
- Harga Brent pada 5 Agustus 2026 naik 0,11 % menjadi US$ 79,45 per barel.
- Harga West Texas Intermediate pada 5 Agustus 2026 turun 0,73 % menjadi US$ 75,22 per barel.
- Stok minyak mentah Amerika Serikat meningkat menjadi 407 juta barel pada pekan lalu, melampaui perkiraan penurunan 1,5 juta barel.
Apa Implikasi Kesepakatan Iran-Oman Terhadap Kemungkinan Pembukaan Kembali Selat Hormuz?
Kesepakatan tersebut menandai langkah awal yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Menurut laporan Kompas, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa pembicaraan berlangsung secara profesional dan kini berada pada tahap finalisasi, namun keberhasilan final bergantung pada tidak adanya intervensi pihak ketiga, khususnya Amerika Serikat. Baghaei juga menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz sebelumnya merupakan dampak serangan AS dan Israel, sehingga perubahan sikap Washington menjadi faktor penentu. Jika pihak ketiga tidak menghalangi proses, pembukaan kembali jalur tersebut dapat memulihkan sebagian besar aliran minyak yang selama ini terhambat.
Bagaimana Pergerakan Harga Minyak Menanggapi Prospek Kesepakatan Ini?
Harga minyak menunjukkan pergerakan berlawanan, dengan Brent menguat sementara WTI melemah, mencerminkan campuran optimisme dan kehati-hatian pasar. Berdasarkan data Kontan, Brent untuk pengiriman Oktober naik 9 sen atau 0,11 % menjadi US$ 79,45 per barel pada 5 Agustus 2026, sedangkan WTI untuk pengiriman September turun 55 sen atau 0,73 % menjadi US$ 75,22 per barel. Analis mengaitkan kenaikan Brent dengan harapan pasokan akan kembali mengalir melalui Hormuz, sementara penurunan WTI dipengaruhi oleh peningkatan persediaan minyak mentah AS yang tidak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, pasar menilai prospek pembukaan sebagai sinyal positif namun tetap memperhitungkan ketidakpastian yang melekat pada proses negosiasi.
Risiko Apa yang Masih Membayangi Stabilitas Pasar Minyak meski Ada Prospek Kesepakatan?
Meskipun ada harapan pembukaan kembali, pasar tetap tertekan oleh serangkaian risiko geopolitik dan logistik yang dapat mengganggu pasokan minyak. Sebagaimana dilaporkan Reuters, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di lepas pantai Yanbu, sementara ketegangan di Laut Hitam dan penghentian operasi Caspian Pipeline Consortium menambah ketidakpastian aliran energi. Selain itu, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS naik menjadi 407 juta barel, berlawanan dengan perkiraan penurunan, menandakan permintaan yang lebih lemah daripada yang diproyeksikan. Kombinasi ancaman keamanan laut dan peningkatan persediaan ini membuat para pelaku pasar tetap waspada terhadap volatilitas harga jangka pendek.
Sumber : AI News