- Investor mulai kurangi ketergantungan pada US Treasuries.
- Utang global naik ke rekor USD353 triliun.
- Tekanan jangka panjang meningkat dari AI, pertahanan, dan energi.
Ipotnews - Investor global mulai menunjukkan tanda-tanda mengurangi ketergantungan pada US Treasuries di tengah lonjakan utang dunia yang mencapai rekor hampir USD353 triliun pada akhir Maret. Temuan ini tercantum dalam laporan terbaru Institute of International Finance (IIF) yang dirilis Rabu.
Dalam laporan kuartalan bertajuk Global Debt Monitor, IIF mencatat adanya peningkatan permintaan internasional terhadap obligasi pemerintah Jepang dan Eropa, yang kontras dengan permintaan terhadap US Treasuries yang relatif stabil sejak awal tahun, seperti dilansir Reuters, di London, Rabu (6/5) atau Kamis (7/5) dini hari WIB.
Direktur Pasar Global dan Kebijakan IIF, Emre Tiftik, menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa investor internasional mulai melakukan diversifikasi dari obligasi pemerintah Amerika Serikat. Meski demikian, dia menegaskan tidak ada risiko langsung terhadap pasar US Treasuries yang bernilai sekitar USD30 triliun.
Namun, dalam pandangan jangka panjang, Tiftik menilai surat utang pemerintah Amerika Serikat bergerak ke arah yang tidak berkelanjutan, terutama jika dibandingkan tren di zona euro dan Jepang yang justru menunjukkan penurunan rasio utang.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa di bawah kebijakan saat ini, rasio utang terhadap produk domestik bruto Amerika Serikat diperkirakan terus meningkat. Sementara itu, pasar obligasi korporasi AS tetap menguat, didorong penerbitan terkait kecerdasan buatan serta masuknya dana dari investor global.
Lonjakan utang global terutama didorong peningkatan pinjaman pemerintah Amerika Serikat, yang menjadi faktor utama kenaikan utang dunia lebih dari USD4,4 triliun pada kuartal pertama. Kenaikan ini tercatat sebagai yang tercepat sejak pertengahan 2025 dan menjadi peningkatan kuartalan kelima berturut-turut.
IIF juga menyoroti percepatan utang di awal tahun dari perusahaan non-keuangan di China, terutama BUMN , yang pertumbuhannya melampaui utang pemerintah setempat. Di luar dua ekonomi terbesar dunia tersebut, utang di negara maju sedikit menurun, sementara negara berkembang--tidak termasuk China--mengalami kenaikan moderat hingga mencapai rekor USD36,8 triliun, terutama didorong pembiayaan sektor publik.
Secara global, rasio utang terhadap output ekonomi dunia tercatat berada di level 305%, relatif stabil sejak 2023. Namun, tren menunjukkan penurunan di negara maju dan peningkatan di negara berkembang.
Dalam rincian lebih lanjut, kenaikan rasio utang terbesar dalam periode tersebut terjadi di Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi, yang masing-masing mencatat lonjakan lebih dari 30 poin persentase terhadap PDB.
IIF memperingatkan bahwa tekanan struktural global seperti penuaan populasi, meningkatnya belanja pertahanan, kebutuhan keamanan energi, diversifikasi ekonomi, keamanan siber, serta investasi besar di bidang kecerdasan buatan akan terus mendorong kenaikan utang pemerintah dan korporasi dalam jangka menengah hingga panjang.
"Konflik terbaru di Timur Tengah diperkirakan semakin memperkuat tekanan tersebut," ujar Tiftik. (Reuters/AI)
Sumber : Admin