Investor Global masih Waspada, Menunggu Perbaikan sebelum Menggeser Investasinya - Ashmore
Saturday, April 18, 2026       22:50 WIB
  • Pasar sempat tertekan akibat gagalnya perundingan damai, namun optimisme kembali muncul seiring peluang diplomasi AS-Iran dan rencana pembukaan Selat Hormuz selama gencatan senjata.
  • Meski begitu, situasi dinilai masih rapuh dengan fokus pada perkembangan konflik dan keamanan jalur energi global.
  • Di domestik, rupiah melemah di atas 17.100, sementara investor tetap waspada meski volatilitas menurun dan disarankan menjaga likuiditas serta diversifikasi aset.

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga April dengan ditutup sedikit menguat 0,17% menjadi 7.634, yang juga lebih tinggi dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 7.458. Namun demikian investor asing mencatatkan arus keluar dari pasar saham Indonesia senilai USD104 juta dalam sepekan terakhir.
 Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa data penting sepanjang pekan ini, antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat, sektor berkinerja terbaik pekan ini adalah Transportasi & Logistik serta Industri yang masing-masing melejit +12,12% dan +9,33%. Di sisi lain, sektor yang tertinggal adalah Keuangan dan Kesehatan yang masing-masing drop -1,08% dan -0,60%.
Pasar berkinerja terbaik pekan ini dicatatkan oleh Gas Alam (+6,26%) dan Indeks Nasdaq (+5,24%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada harga Batu Bara (-3,19%) dan CPO (-2,36%).
Ashmore juga mencatat, pada pekan ini indeks harga produsen AS meningkat lebih lambat dari perkiraan dan mempertahankan laju bulan sebelumnya. Sementara itu, penjualan rumah eksisting turun ke level terendah dalam sembilan bulan dan tidak memenuhi ekspektasi pasar. Data klaim pengangguran awal juga lebih rendah dari perkiraan.
Di kawasan Eropa, tingkat produksi industri bulanan tercatat lebih tinggi dari perkiraan, setelah dua bulan berturut-turut mengalami penurunan, didorong oleh peningkatan pada barang konsumsi non-tahan lama. Sementara itu, neraca perdagangan kembali mencatat surplus setelah defisit pada bulan sebelumnya.
Di Jerman, harga grosir mengalami kenaikan tahunan dan bulanan yang lebih besar dari perkiraan, karena kenaikan harga energi yang lebih tinggi. Inggris mencatat pertumbuhan ekonomi bulanan terkuat sejak Januari 2024 dan lebih tinggi dari perkiraan, didukung oleh sektor jasa. Penjualan ritel tumbuh pada laju tercepat sejak April tahun lalu, didorong oleh perayaan Paskah yang lebih awal.
Di Asia, China mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan dan menjadi laju tercepat dalam tiga kuartal terakhir berkat ekspor yang kuat. Namun, neraca perdagangan pada Maret mencatat surplus yang lebih kecil dari perkiraan dan menjadi yang terendah sejak Februari tahun lalu, Ini terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekspor sementara impor meningkat lebih cepat. Produksi industri lebih kuat dari perkiraan, namun menurun dibandingkan bulan sebelumnya karena perang di Timur Tengah memperlambat ekonomi.
"Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan ritel tahunan yang lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi yang tercepat sejak Maret 2024, mencerminkan kuatnya belanja selama musim Ramadhan," tulis Ashmore.
Hormuz dibuka kembali selama gencatan senjata
Ashmore mencermati, pekan ini, pasar sempat mengalami sentimen negatif akibat gagalnya perundingan damai awal di Islamabad pada akhir pekan sebelumnya. Namun, optimisme kembali muncul karena jalur diplomasi antara AS dan Iran masih berpeluang berlanjut. Hal ini memberikan kelegaan bagi pasar global dan meningkatkan selera risiko.
"Selain itu, kabar terbaru menunjukkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka selama gencatan senjata di Lebanon berlangsung, yang saat ini dijadwalkan berakhir sekitar 26 April (gencatan senjata 10 hari diumumkan pada 16 April), kecuali jika diperpanjang," papar Ashmore.
Ashmore menilai, upaya diplomasi terkait konflik Iran tetap aktif setelah perundingan awal, meskipun pasar masih memandang situasi secara keseluruhan sebagai rapuh dan bergerak hati-hati. Kelanjutan upaya dialog antara Iran dan AS dipandang positif karena berbeda dengan dinamika konflik selama beberapa dekade sebelumnya. "Secara krusial, pasar menantikan perkembangan konkret sebelum berakhirnya gencatan senjata saat ini atau adanya perpanjangan untuk memberi waktu tambahan," imbuh Ashmore
Menurut Ashmore, fokus utama pasar tetap tertuju pada aktivitas di Selat Hormuz serta aksi militer di kawasan tersebut. "Minat pada aset berisiko diperkirakan akan meningkat lebih signifikan jika jalur tersebut memungkinkan lebih banyak kapal melintas dengan aman dan memperbaiki pasokan energi global. Skenario dasar masih mengarah pada meredanya konflik secara bertahap, namun ketidakpastian terbesar terletak pada lamanya konflik berkepanjangan," sebut Ashmore.
Di dalam negeri, Ashmore melihat bahwa, pasar pekan ini mencatat pelemahan nilai tukar yang menembus level 17.100. Kondisi ini terjadi seiring kekhawatiran atas premi risiko yang disorot lembaga pemeringkat, yang belum sepenuhnya mereda. "Meski demikian, bank sentral terus mendukung mata uang, tercermin dari penurunan cadangan devisa," Ashmore menambahkan.
Di sisi lain, Bloomberg Technoz mengutip Menteri Keuangan Purbaya menyatakan bahwa S&P tetap mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil. Selain itu, imbal hasil SRBI terus meningkat ke sekitar 5,74% sebagai bentuk dukungan tambahan terhadap cadangan devisa dan stabilitas mata uang. "Hal ini mengindikasikan bahwa BI kemungkinan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan suku bunga di tengah ketidakpastian global," tulis Ashmore.
Secara keseluruhan, Ashmore berpendapat investor global masih bersikap waspada, namun volatilitas (berdasarkan VIX) telah menurun. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa investor masih menunggu bukti perbaikan yang lebih jelas sebelum melakukan pergeseran investasi secara lebih signifikan.
"Dalam kondisi saat ini, investor disarankan untuk tetap berfokus pada aset dengan likuiditas kuat serta menjaga diversifikasi antar kelas aset, mengingat dinamika diplomasi yang sangat cepat berubah. (Ashmore)


Sumber : Admin