- Investor Asia mulai memindahkan dana dari money market fund ke instrumen yang lebih berisiko seperti reksa dana aktif, obligasi, dan aset alternatif.
- Konsentrasi indeks pada saham teknologi raksasa membuat strategi investasi pasif dinilai semakin berisiko.
- Permintaan terhadap produk pendapatan tetap dan strategi investasi alternatif meningkat di kalangan investor Asia.
Ipotnews - Investor di kawasan Asia mulai mengalihkan dana dari instrumen likuid seperti money market fund ke berbagai peluang investasi lain, termasuk reksa dana yang dikelola secara aktif, obligasi, serta aset alternatif. Perubahan strategi ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian dan volatilitas di pasar global.
Head of Asia-Pacific sekaligus head of investments Asia-Pacific di Wellington Management, Janet Perumal, mengatakan bahwa investor sebelumnya menempatkan dana dalam jumlah besar di money market fund, namun kini mulai mengalokasikannya kembali ke berbagai kelas aset yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Menurutnya, tren tersebut tidak hanya terjadi di Singapura tetapi juga di berbagai negara Asia lainnya. Hal ini terlihat dari meningkatnya aliran dana ke instrumen investasi aktif di tengah kondisi pasar yang semakin bergejolak.
Perumal juga menilai investasi pasif kini menghadapi risiko yang lebih besar karena indeks saham global semakin terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan teknologi raksasa. Tujuh saham teknologi besar yang dikenal sebagai Magnificent Seven--yakni Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta Platforms, dan Tesla--saat ini menyumbang lebih dari 30% kapitalisasi pasar indeks S&P 500.
Meski valuasi di beberapa segmen pasar sudah cukup tinggi, Perumal menilai kinerja laba perusahaan masih mendukung level valuasi tersebut. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter yang relatif akomodatif juga turut menopang pasar.
Data Morningstar menunjukkan sejak September, arus dana bersih ke reksa dana aktif di Singapura dan Hong Kong umumnya melampaui aliran dana ke reksa dana pasif setiap bulan, kecuali pada November. Dalam enam bulan terakhir, dana pasif bahkan mencatat arus keluar pada September, Oktober, dan Desember.
Selain itu, minat investor institusi juga terlihat pada saham berkapitalisasi kecil di Amerika Serikat serta ekuitas Eropa. Permintaan terhadap strategi investasi alternatif juga meningkat, termasuk strategi 140/40 extension yang memungkinkan manajer investasi melakukan posisi short hingga 40% dari nilai aset dan menginvestasikan kembali dana tersebut pada posisi long.
Platform strategi 140/40 global Wellington tercatat berkembang pesat dari US$3,4 miliar menjadi US$19,1 miliar dalam tiga tahun terakhir, dengan arus dana bersih mencapai US$4,6 miliar sepanjang 2025.
Di sisi lain, permintaan investor Asia terhadap produk yang menghasilkan pendapatan stabil juga meningkat. Untuk merespons tren tersebut, Wellington meluncurkan berbagai produk seperti Asian credit income dan Asia quality income yang dirancang memberikan kombinasi pendapatan rutin dan potensi imbal hasil total.
Perusahaan yang berkantor pusat di Boston, Amerika Serikat, itu juga terus memperluas bisnis investasi privat, termasuk pembiayaan utang properti komersial dan pembiayaan pertumbuhan perusahaan. Wellington saat ini mengelola aset global sekitar US$1,3 triliun per akhir 2025 dan telah beroperasi di Singapura selama lebih dari 25 tahun.
Ke depan, perusahaan juga memperkirakan aktivitas merger dan akuisisi akan meningkat, terutama di sektor-sektor strategis. Beberapa transaksi besar yang menjadi sorotan pasar antara lain akuisisi Wiz oleh Google serta akuisisi Scale AI oleh Meta Platforms.(Businesstimes.com.sg)
Sumber : Admin