- Sektor hulu migas menyumbang PNBP Rp105,4 triliun pada 2025, serta DBH dan PBB Migas triliunan rupiah bagi daerah seperti Riau.
- Aktivitas migas mendorong belanja barang/jasa lokal, tenaga kerja, infrastruktur, hingga CSR dan pengembangan masyarakat.
- Besarnya penerimaan belum otomatis meningkatkan kesejahteraan; efektivitas bergantung pada kebijakan pemerintah daerah dalam membelanjakan DBH dan PBB Migas.
Ipotnews - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) memiliki andil yang sangat besar bagi perekonomian nasional dan geliat ekonomi di daerah. Dampak berganda (multiplier effect) yang dihasilkan dari aktivitas operasional industri strategis ini telah terbukti mampu menggerakkan sendi - sendiri perekonomian dari tingkat daerah hingga nasional.
Sebagai contoh, pada tahun 2023, Provinsi Riau menerima DBH (Dana Bagi Hasil) Migas sebesar Rp3,6 triliun dan PBB Migas sebesar Rp3,9 triliun. Sementara itu dari sisi kas negara mengacu pada laporan Kementerian ESDM , realisasi PNBP (pendapatan negara bukan pajak) dari sektor migas sekitar Rp105,4 triliun di sepanjang 2025.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, Rinto Pudyantoro menjelaskan kontribusi industri hulu migas terhadap daerah tidak hanya dilihat Dana Bagi Hasil (DBH), penerimaan pajak (PBB Migas), serta kontribusi melalui Participating Interest (PI) sebesar 10 persen yang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ).
"Seringkali muncul persepsi bahwa keberadaan industri migas tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Padahal, jika dilihat secara komprehensif, industri ini justru memberikan dampak ekonomi yang sangat besar dan berlapis bagi daerah," ujat Rinto dalam keterangannya beberapa saat lalu.
Selain itu, aktivitas operasional wilayah kerja (WK) migas juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui belanja barang dan jasa serta keterlibatan pelaku usaha daerah. Kontribusi sektor ini juga melebar pada pengembangan industri turunan serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan pengembangan masyarakat (PPM) juga menjadi bagian penting dalam memperkuat dampak sosial ekonomi yang dihasilkan.
"Multiplier effect industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja lokal, infrastruktur, hingga penguatan ekonomi daerah secara keseluruhan," tambahnya.
Meski demikian, Rinto mengakui tantangan utama terletak pada keputusan pemerintah daerah dalam pemanfaatan dana yang diperoleh tersebut, karena besarnya penerimaan DBH Migas dan PBB Migas tidak berdampak langsung pada kesejahteraan daerah.
"Jika pemerintah daerah bisa tepat membelanjakan dana tersebut untuk pembangunan maka hal itu dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat," katanya.
Di tengah penurunan produksi migas, Rinto menegaskan bahwa industri hulu migas tetap memiliki peran penting sebagai penopang perekonomian baik nasional maupun daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor ini tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menjadi motor penggerak perekonomian yang berkelanjutan.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin