Impulsif di Era Digital, Gen Z Dituntut Bijak dalam Pengelolaan Keuangan dan Proteksi
Tuesday, July 07, 2026       14:37 WIB
  • Kemudahan digital menuntut Gen Z lebih bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak impulsive buying.
  • Skala prioritas menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan harian, cicilan, dana darurat, dan investasi.
  • Proteksi keuangan perlu diperhatikan sejak dini karena risiko kehidupan bisa datang kapan saja.

Ipotnews - Kemudahan layanan teknologi digital membuat akses terhadap e-commerce dan layanan keuangan semakin terbuka bagi generasi muda. Namun, di balik kenyamanan tersebut ada tuntutan yang mutlak diperhatikan untuk memastikan pengelolaan keuangan yang lebih terarah dan bijak, khususnya bagi Gen Z yang tengah memasuki usia produktif.
Priskilla Fachruddin, Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia, mengingatkan bahwa sekitar 41 persen generasi muda rutin melakukan impulsive buying akibat pengaruh media sosial dan promosi digital. Oleh sebab itu dalam pengelolaan keuangan sangat penting untuk melakukan budgeting agar terhindar dari belanja-belanja yang tidak perlu.
Di saat yang sama, Killa mengakui bahwa saat ini sudah banyak anak muda yang mulai sadar perlunya berinvestasi. Namun dari sekian investor muda kerap melupakan pentingnya proteksi. Padahal, risiko kehidupan bisa datang kapan saja, sehingga dana proteksi menjadi kebutuhan mendasar.
"Kita perlu membedakan kebutuhan dan keinginan, menetapkan batas pengeluaran, serta menyediakan dana proteksi. Karena meskipun masih muda, risiko kehidupan bisa datang kapan saja, seperti jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit," ujar Killa dalam keterangannya, Selasa (7/7).
Selain itu, Prudential Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya menjaga skala prioritas dalam pengelolaan terutama bagi keuangan keluarga. Prudential Indonesia memberikan panduan sederhana dengan rumus 10-20-30-40, yakni 40 persen untuk kebutuhan harian, maksimal 30 persen untuk cicilan, 20 persen untuk dana darurat, asuransi, tabungan, dan investasi, serta 10 persen untuk kebutuhan sosial.
Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, menegaskan bahwa literasi keuangan harus hadir dalam bentuk edukasi yang praktis dan relevan. Pendekatan ini penting agar edukasi keuangan tidak berhenti pada pemahaman konsep saja, tetapi juga membantu masyarakat menerapkannya dalam keputusan sehari-hari.
"Bagi generasi muda, literasi keuangan membantu mereka mempersiapkan masa depan dengan lebih percaya diri, sedangkan bagi perempuan dan ibu, literasi keuangan memperkuat peran mereka dalam menjaga stabilitas keluarga," ujarnya. (Marjudin/AI)

Sumber : admin