Imbal Hasil Obligasi Global Berjangka Panjang Naik, Emas Cetak Rekor Baru di Tengah Kekhawatiran Fiskal
Wednesday, September 03, 2025       14:30 WIB

Ipotnews - Penurunan global pada obligasi berjangka panjang berlanjut ke Asia pada hari ini, Rabu (3/9). Imbal hasil obligasi Jepang mencetak rekor tertinggi sementara harga emas menembus level baru, seiring meningkatnya kekhawatiran atas nilai utang pemerintah dan pertumbuhan ekonomi.
Laman Reuters melaporkan, imbal hasil obligasi - khususnya yang bertenor super panjang 30 tahun - melonjak di seluruh dunia karena investor khawatir akan skala utang di sejumlah negara, mulai dari Jepang hingga Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun menyentuh 3,255% untuk pertama kalinya, setelah kenaikan pada obligasi pemerintah Inggris dan AS pada Selasa kemarin.
Jelang pembukaan, pasar Eropa mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi, meski banyak bergantung pada apakah aksi jual obligasi akan mereda. Fokus pasar tertuju pada potensi runtuhnya pemerintahan Prancis dan kemampuan Inggris menstabilkan keuangannya.
Ben Bennett, Kepala Strategi Investasi Asia di L&G, mengatakan defisit fiskal yang besar menekan obligasi jangka panjang karena investor harus menyerap penerbitan surat utang dalam jumlah signifikan. "Saya pikir kenaikan suku bunga di Jepang juga menjadi faktor utama, karena pasar obligasi global tak lagi diuntungkan dari perburuan imbal hasil oleh Jepang. Ini badai sempurna bagi obligasi jangka panjang dan memusingkan pemerintah," katanya, seperti dikutip Reuters.
Kekhawatiran tentang kesehatan fiskal Jepang kembali muncul setelah ajudan dekat Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyatakan niat untuk mundur. Indeks saham MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,4%.
Perhatian kini tertuju pada data jasa di Eropa untuk mengukur bagaimana negara-negara menghadapi kebijakan tarif yang tak terduga dari Presiden AS Donald Trump, serta data ketenagakerjaan AS pada Jumat untuk sinyal pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Trump pada Selasa kemarin mengatakan pemerintahannya akan meminta Mahkamah Agung mempercepat putusan terkait tarif yang dinyatakan ilegal oleh pengadilan banding pekan lalu. Meski begitu, tarif tetap berlaku hingga 14 Oktober.
Data pada Selasa menunjukkan manufaktur AS menyusut untuk bulan keenam berturut-turut pada Agustus akibat dampak tarif impor. Indeks manajer pembelian (PMI) zona euro dan Inggris dijadwalkan rilis pada Rabu. Data tenaga kerja non-pertanian AS pada Jumat akan didahului laporan lowongan kerja dan payroll swasta, memberi kejelasan tentang kondisi pasar tenaga kerja yang kini menjadi fokus perdebatan kebijakan The Fed.
Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga akhir bulan ini, dengan peluang 89% untuk pemangkasan 25 basis poin. Imbal hasil JGB 30 tahun melonjak 8 bps ke rekor 3,28% menjelang lelang utang pada Kamis. Imbal hasil Treasury AS 30 tahun terakhir di 4,985%, tepat di bawah level psikologis 5% yang terakhir disentuh pertengahan Juli.
"Banyak yang bergantung pada laporan ketenagakerjaan AS Agustus pada Jumat [lusa]," kata Vasu Menon, Managing Director strategi investasi di OCBC Bank. "Jika hasilnya jauh di bawah ekspektasi pasar, imbal hasil jangka panjang bisa sedikit mereda, meski pergerakan signifikan mungkin baru terjadi setelah rilis data CPI AS 11 September," imbuhnya.
Dolar AS menguat 0,3% ke 148,79 yen. Poundsterling melemah 0,2% ke $1,3367, sementara euro terakhir diperdagangkan di $1,163. Pound jatuh 1,1% pada sesi sebelumnya dan imbal hasil gilt 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 1998, menyoroti kegelisahan investor atas kemampuan pemerintah Partai Buruh menjalankan disiplin fiskal.
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves diperkirakan akan menaikkan pajak dalam anggaran musim gugur untuk menjaga target fiskalnya. Sementara di Prancis, Perdana Menteri Francois Bayrou berpotensi kehilangan mosi percaya karena partai oposisi menolak pemangkasan belanja pemerintah.
Harga emas memperpanjang reli rekornya pada Rabu, bertahan di atas level kunci US$3.500 dan terakhir berada di US$3.537,81 per ounce. Minyak mentah AS melemah 0,2% ke US$65,41 per barel. (Reuters)

Sumber : admin