- IHSG dibuka melemah ke level 6.533 dengan setelah akhir pekan lalu ditutup melemah di level 6.541.
- Sentimen global: ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan BoJ, inflasi AS, serta ketegangan di Timur Tengah memicu penguatan harga minyak.
- indeks berpotensi menguat jika mampu break 6.588, namun bila gagal bisa turun ke level psikologis 6.400-an.
Ipotnews - Awal pekan ini, Senin (14/9), IHSG dibuka di zona merah dengan melemah ke level 6.533 dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang juga melemah 0,73 persen di level 6.541 dengan disertai net sell asing sebesar Rp732,8 miliar.
Kemudian pada pukul 09.05 WIB hari ini, tekanan sedikit berkurang sehingga Indeks tercatat hanya melemah 0,06 persen atau 4 poin ke level 6.537 dengan level tertinggi 6.540 dan terendah di level 6.515 alias konsisten di zona merah tipis.
Sebanyak 256 emiten yang bergerak menguat, 298 emiten melemah dan 409 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 147,7 ribu kali dengan nilai Rp1,02 triliun.
Kinerja sektoral pada perdagangan pagi ini menunjukkan pergerakan yang cenderung mixed, dengan sebagian sektor mengalami tekanan dan sebagian lainnya mencatat penguatan tipis.
Sektor properti menguat 0,13 persen ke level 820, diikuti sektor industri yang naik 0,64 persen ke 1.732, konsumer non primer juga bergerak positif 0,18 persen ke level 713.
Sebaliknya, tekanan terjadi pada sektor bahan baku yang turun 0,93 persen menjadi 1.803, transportasi melemah 0,60 persen menjadi 1.618 serta teknologi yang terkoreksi 0,34 persen menjadi 6.877.
Selanjutnya sektor energi turun 0,26 persen menjadi 3.350, keuangan 0,43 persen menjadi 1.385, Infrastruktur melemah 0,46 persen menjadi 1.887, konsumer primer melemah 0,26 persen menjadi 952 dan kesehatan 0,12 persen menjadi 1.539.
Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ) menyatakan IHSG hari ini diperkirakan bergerak dengan tekanan dari berbagai sentimen global dan domestik. Pada perdagangan terakhir di pekan lalu indeks tertekan hingga ke level 6.462, namun membentuk candle bullish hammer sehingga masih bertahan di atas MA20.
"Pergerakan indeks hari ini akan bergantung pada validasi teknikal yang mana akan bergerak menguat apabila mampu break di level 6.588. Namun jika gagal, indeks berpotensi turun ke level psikologis 6.400-an," jelas Imam dalam sesi IPOT Live.
Sejumlah sentimen yang akan menjadi fokus perhatian investor baik domestik dan asing yaitu terkait dengan keputusan kebijakan moneter dari Amerika Serikat (AS) yaitu The Fed dan Bank of Japan (BoJ) yang diproyeksikan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perkiraan kenaikan tingkat suku bunga dikaitkan dengan data kenaikan inflasi bulanan Amerika Serikat pada Agustus yang naik 0,4 persen secara bulanan, dengan inflasi inti naik 0,3 persen, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Kenaikan inflasi tersebut juga dikaitkan dengan penguatan harga komoditas terutama minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan drone di Irak serta ketidakpastian jalur pelayaran di Selat Hormuz. Tercatat harga minyak dunia naik 3,20 persen ke USD103,25 per barel, emas naik 0,76 persen ke USD4.450 per troy ounce, sedangkan batubara turun 0,84 persen menjadi USD146,75 per metrik ton.
"Salah satu yang dikhawatirkan dari kenaikan harga minyak adalah inflasi, baik dari sisi produsen maupun konsumen. Kenaikan inflasi akan memicu The Fed atau bank sentral lainnya menaikkan suku bunga acuannya," ujar Imam.
Dengan kondisi tersebut, investor diimbau untuk memperhatikan risk reward serta disiplin dalam money management, mengingat volatilitas pasar masih tinggi akibat kombinasi faktor global dan domestik. Imam merekomendasikan tiga saham pilihan ini yang layak untuk menjadi perhatian investor, yaitu :
- strategi Buy (Entry 4.910 Target 5.300 Stop loss 4.720)
- strategi Buy (Entry 1.265 Target 1.335 Stop loss 1.230)
- strategi Buy on Breakout (Entry 765 Target 825 Stop loss 735).
(Marjudin/ AI)
Sumber : Admin