- Sawit naik 0,63% ke 4.615 ringgit, terkatrol aksi bargain buying dan rebound minyak mentah.
- Kenaikan terbatas oleh melemahnya minyak saingan di China dan kebingungan jadwal pencampuran biodiesel Indonesia.
- Ringgit melemah 0,15% terhadap dolar, membuat sawit lebih murah bagi pembeli asing.
Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat, Kamis, menebus sebagian kerugian sesi sebelumnya, seiring munculnya aksi bargain buying setelah rebound harga minyak mentah.
Namun, kenaikan harga terbatas akibat tekanan dari minyak saingan di Dalian yang melemah serta kebingungan terkait jadwal pencampuran biodiesel Indonesia.
Kontrak minyak sawit patokan untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 29 ringgit atau 0,63% menjadi 4.615 ringgit (USD1.159,55) per ton metrik pada jeda tengah hari, setelah merosot lebih dari 3% pada sesi sebelumnya, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Kamis (9/4).
"Kebingungan mengenai timeline B50 Indonesia -- apakah berlaku hanya untuk entitas bersubsidi atau juga untuk entitas non-subsidi -- membebani pasar," kata Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, perusahaan pialang di Mumbai.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan peraturan menteri yang menetapkan jadwal implementasi mandat pencampuran biofuel, sebagai upaya memenuhi target transisi energi dan kemandirian energi nasional.
Bagani menambahkan, "Selain itu, melemahnya kontrak minyak kedelai dan rapeseed di China juga menahan pemulihan harga sawit."
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,44%, sementara kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melorot 0,68% dan kontrak minyak sawitnya turun 0,52%.
Harga sawit mengikuti pergerakan minyak saingan karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Kenaikan harga minyak mentah membuat sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel, terutama di tengah keraguan bahwa gencatan senjata dua minggu di Timur Tengah dapat bertahan dan kekhawatiran aliran energi melalui Selat Hormuz tetap terbatas.
Selain itu, ringgit, sebagai mata uang perdagangan sawit, melemah 0,15% terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, menilai minyak sawit berpotensi menguji resistance di 4.644 ringgit per ton; jika menembus level ini, harga bisa naik lebih lanjut ke 4.696 ringgit. (Reuters/AI)
Sumber : Admin