Harga Minyak Tertekan, Investor Pantau Eskalasi Serangan Amerika-Iran
Thursday, September 03, 2026       13:07 WIB
  • Minyak turun; Brent USD94,50 dan WTI USD90,06 per barel.
  • Investor mencermati konflik AS-Iran dan risiko gangguan Selat Hormuz.
  • Ekspor Irak melonjak, membantu meredakan kekhawatiran pasokan.

Ipotnews - Harga minyak melorot, Kamis, ketika investor menimbang ketidakpastian akibat kembali terjadinya serangan militer antara Amerika dan Iran. Eskalasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa pasokan dari Timur Tengah dapat terganggu, terutama melalui Selat Hormuz.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, merosot USD1,13 atau 1,18% menjadi USD94,50 per barel pada pukul 12.48 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Beijing, Kamis (3/9).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melemah 95 sen atau 1,04% menjadi USD90,06 per barel.
Serangan terbaru menjadi pertukaran tembakan terbesar antara Amerika Serikat dan Iran sejak Juli. Konflik kedua negara tersebut kini telah memasuki bulan ketujuh.
Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent dan WTI bergerak sangat volatil. Kedua kontrak sempat melejit hingga USD2 per barel sebelum berbalik turun sekitar USD1 per barel. Level puncak yang dicapai kedua acuan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 24 Juli.
Harga minyak kemudian kembali melemah setelah muncul tanda-tanda awal bahwa eskalasi terbaru antara Washington dan Teheran mulai mereda. Tony Sycamore, analis IG, mengatakan belum ada konfirmasi mengenai pertukaran serangan baru sejak sekitar tengah hari pada Rabu waktu Sydney.
Presiden AS Donald Trump, Rabu, mengatakan kampanye militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran tidak akan berlangsung "terlalu lama". Trump juga mengatakan pasukan AS telah menyerang sistem radar dan rudal milik Iran.
"Kami menghancurkan semua peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz--sebagian defensif, sebagian ofensif," kata Trump. "Itu adalah serangan yang sangat besar tadi malam, dan kami siap melakukan serangan lain kapan pun kami mau."
Sycamore mengatakan, jika kondisi yang relatif tenang tersebut bertahan, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan akan kembali meningkat dalam waktu dekat. Namun, dia menekankan bahwa keberlanjutan kondisi tersebut masih sangat tidak pasti.
"Jika peredaan ini bertahan, dan itu merupakan sebuah 'jika' yang besar, tidak akan lama sebelum minyak yang keluar melalui Selat dengan menggunakan kapal yang mematikan sistem pelacakan maupun transfer antarkapal kembali ke tingkat yang terlihat pada akhir pekan lalu," ujar Sycamore.
Data awal perusahaan intelijen perdagangan komoditas Kpler menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal.
Iran juga menambah jumlah kapal yang masuk dalam daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi ketentuan. Kapal tersebut dapat dikenai denda, penyitaan, atau penahanan apabila mencoba melintasi Selat Hormuz.
Di tengah gangguan lalu lintas pelayaran, ekspor minyak Irak justru melonjak. Dua pejabat energi Irak mengatakan ekspor minyak negara tersebut melambung menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari sepanjang Agustus, dari sekitar 1,35 juta barel per hari pada Juli.
Ekspor Irak pada September juga diperkirakan kembali meningkat. Diskon besar yang ditawarkan Irak serta persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melintasi Selat Hormuz disebut mendorong minat pembeli.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi global karena merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi menimbulkan tekanan besar terhadap pasokan minyak dunia dan meningkatkan volatilitas harga.
Pemerintah AS pada Selasa mengatakan sebanyak 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz, Senin. Washington menyebut volume tersebut sebagai jumlah minyak mentah terbesar yang melewati jalur perairan itu sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai. (Reuters/Bloomberg/AI)

Sumber : Admin