Harga Minyak Tertahan! Sanksi Baru Bagi Rusia dan Tarif Trump Membuat Pasar Gelisah
Saturday, July 19, 2025       08:53 WIB

Ipotnews - Harga minyak mentah dunia bergerak stabil pada Jumat (18/7) akhir pekan ini, di tengah berita ekonomi dan tarif dari Amerika Serikat yang saling bertolak belakang, serta kekhawatiran soal pasokan minyak menyusul sanksi terbaru Uni Eropa terhadap Rusia atas perang di Ukraina.
Harga minyak Brent turun 24 sen atau 0,3% menjadi USD 69,28 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS turun 20 sen atau 0,3% dan ditutup di USD 67,34 per barel. Kedua patokan harga tersebut mencatatkan penurunan sekitar 2% sepanjang pekan ini.
Di Amerika Serikat, pembangunan rumah keluarga tunggal turun ke level terendah dalam 11 bulan terakhir pada Juni. Tingginya suku bunga hipotek dan ketidakpastian ekonomi menghambat pembelian rumah, mengindikasikan bahwa investasi di sektor perumahan kembali menyusut pada kuartal kedua.
Namun, laporan lain menunjukkan bahwa sentimen konsumen di AS membaik pada Juli, sementara ekspektasi inflasi terus menurun. Penurunan inflasi ini dapat membuka ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, yang pada gilirannya dapat menurunkan biaya pinjaman konsumen, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mendorong permintaan minyak.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mendorong penerapan tarif minimum sebesar 15% hingga 20% dalam kesepakatan dengan Uni Eropa. Financial Times melaporkan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan tarif resiprokal lebih dari 10%, bahkan jika kesepakatan berhasil dicapai.
"Tarif resiprokal yang sedang dipertimbangkan saat ini, ditambah pungutan sektoral yang telah diumumkan, bisa mendorong tarif efektif AS melampaui 25%, melebihi puncaknya di era 1930-an. Dalam beberapa bulan ke depan, tarif-tarif ini kemungkinan akan mulai terlihat dalam angka inflasi," tulis analis dari Citi Research dalam sebuah catatan.
Inflasi yang meningkat berisiko menaikkan harga barang bagi konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi serta permintaan minyak.
Sanksi Baru dari Uni Eropa
Uni Eropa mengumumkan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia, dengan fokus pada industri minyak dan energi sebagai bagian dari respons atas invasi ke Ukraina.
"Pasar merespons sanksi baru dari AS dan Eropa terhadap minyak Rusia dengan reaksi yang datar," tulis analis dari Capital Economics. "Ini mencerminkan keraguan investor bahwa Presiden Trump akan benar-benar menindaklanjuti ancamannya, serta anggapan bahwa sanksi baru dari Eropa tidak akan lebih efektif dari sebelumnya."
Sebagai bagian dari langkah tersebut, Uni Eropa juga akan menghentikan impor semua produk minyak olahan yang berasal dari minyak mentah Rusia. Namun, larangan ini tidak berlaku untuk impor dari Norwegia, Inggris, AS, Kanada, dan Swiss, menurut keterangan diplomat Uni Eropa.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan di platform X bahwa UE juga telah memasukkan kilang minyak terbesar milik Rosneft di India ke dalam daftar sanksi. India sendiri merupakan importir utama minyak mentah Rusia, sementara Turki berada di posisi ketiga, menurut data dari Kpler.
"Hal ini menunjukkan bahwa pasar khawatir akan kehilangan pasokan solar ke Eropa, karena India sebelumnya menjadi sumber utama," kata Janiv Shah, Wakil Presiden pasar minyak dari Rystad Energy.
Dalam perkembangan lain, perusahaan minyak raksasa asal AS, Chevron, resmi menyelesaikan akuisisi senilai USD 55 miliar terhadap Hess pada Jumat. Langkah ini dilakukan setelah Chevron memenangkan gugatan penting melawan Exxon Mobil untuk mendapatkan akses ke ladang minyak terbesar dalam beberapa dekade terakhir yang ditemukan di lepas pantai Guyana.
(reuters)

Sumber : admin