AI News - Harga minyak mentah dunia melambung sekitar 1% pada perdagangan Rabu 2 September 2026, dengan Brent mencapai US$ 95,63 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) US$ 91,01 per barel, dipicu oleh serangkaian serangan militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global.
Poin Penting
- Harga Brent naik 1% menjadi US$ 95,63 per barel.
- Harga WTI naik 0,9% menjadi US$ 91,01 per barel.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun menjadi 4 kapal pada 2 September, jauh di bawah rata-rata 13 kapal per hari.
- Volume minyak yang melintasi Selat Hormuz mencapai sekitar 17 juta barel, tertinggi sejak konflik dimulai.
- Persediaan minyak mentah AS berkurang 4,5 juta barel pada pekan lalu, melampaui perkiraan penurunan 1,1 juta barel.
Mengapa Harga Minyak Naik Setelah Serangan Militer Terbaru antara AS dan Iran?
Harga minyak melonjak karena serangan militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menambah kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan fisik. Investor.id melaporkan bahwa direktur Liquidity Energy, Mark Schaefer, menilai eskalasi tersebut sebagai "peningkatan signifikan" setelah periode relatif tenang, sehingga para pedagang menyesuaikan ekspektasi risiko. Akibatnya, kontrak berjangka Brent ditutup naik 98 sen (1%) menjadi US$ 95,63 per barel, sementara WTI naik 79 sen (0,9%) menjadi US$ 91,01 per barel, mencetak level tertinggi sejak 24 Juli 2026. Selama sesi, kedua indeks sempat bergerak naik hampir US$ 2 per barel sebelum berbalik, mencerminkan volatilitas yang dipicu oleh rasa tidak pasti tentang aliran minyak. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar menilai potensi gangguan jalur pengiriman sebagai faktor penentu utama harga.
Bagaimana Konflik di Selat Hormuz Mempengaruhi Pasokan Minyak Global?
Konflik memperlambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis, sehingga memperketat pasokan minyak dunia. Kontan mencatat bahwa hanya empat kapal komoditas yang melintasi selat pada Rabu, jauh di bawah rata-rata 13 kapal dalam 10 hari terakhir, menurut data awal perusahaan pelayaran Kpler. Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pada Selasa bahwa sekitar 17 juta barel minyak melewati Hormuz pada Senin, volume terbesar sejak perang dimulai, mengindikasikan upaya mengompensasi penurunan frekuensi kapal. IRGC menegaskan bahwa serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas, bahkan melaporkan dua tanker yang terkena ranjau laut. Meskipun demikian, pasar telah memperhitungkan bahwa jalur alternatif, termasuk ekspor meningkat dari Irak, dapat menyalurkan sebagian kebutuhan, sehingga dampak jangka pendek tetap terbatas meski risiko fisik tetap tinggi.
Apa Implikasi Penurunan Persediaan Minyak Mentah AS terhadap Harga Minyak?
Penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 4,5 juta barel pada pekan lalu memberikan dukungan tambahan pada kenaikan harga minyak. Investor.id melaporkan bahwa data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan tersebut jauh melampaui perkiraan analis yang hanya mengantisipasi penurunan 1,1 juta barel, menandakan permintaan domestik yang kuat atau penarikan stok yang lebih cepat dari yang diperkirakan. Penurunan persediaan ini meningkatkan persepsi kelangkaan pasokan di pasar, sehingga memperkuat sentimen bullish yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dengan persediaan berkurang, para pelaku pasar menilai tekanan kenaikan harga akan berlanjut, apalagi dikombinasikan dengan risiko gangguan jalur pengiriman. Akibatnya, harga Brent dan WTI tetap berada pada level tinggi, mengokohkan tren kenaikan yang dimulai dari konflik militer terbaru.
Sumber : AI News