AI News - Pada Kamis 9 Juli 2026, harga minyak mentah Brent naik menjadi US$ 79,28 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 74,76 per barel, masing-masing naik lebih dari US$ 1 setelah serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
Poin Penting
- Brent diperdagangkan pada US$ 79,28 per barel pada 9 Juli 2026.
- WTI diperdagangkan pada US$ 74,76 per barel pada 9 Juli 2026.
- Brent naik lebih dari US$ 1 (sekitar 1,6%) dibanding penutupan 8 Juli 2026.
- Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz.
Mengapa Harga Minyak Brent dan WTI Naik Tajam pada 9 Juli 2026?
Lonjakan harga disebabkan oleh serangan baru militer AS ke Iran yang menambah kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20 % suplai energi dunia. Detik melaporkan bahwa Brent naik menjadi US$ 79,28 per barel, sementara WTI mencapai US$ 74,76 per barel, masing-masing meningkat lebih dari US$ 1 dibanding penutupan sebelumnya. Kenaikan ini melanjutkan lonjakan 5 % pada penutupan 8 Juli, ketika Brent sempat mencapai US$ 78,02. Komando Pusat militer AS menegaskan serangan bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, sehingga pasar menafsirkan tindakan tersebut sebagai sinyal potensi penurunan aliran minyak. Akibatnya, trader memperkuat posisi beli sebagai lindung nilai terhadap risiko pasokan.
Bagaimana Pembatalan MOU Iran-AS dan Serangan Militer Memengaruhi Sentimen Pasar Minyak?
Pembatalan nota kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran menambah ketidakpastian geopolitik, mendorong sentimen pasar menjadi lebih bullish pada minyak mentah. Kontan mencatat bahwa pada 8 Juli harga Brent naik US$ 2,40 (3,2 %) menjadi US$ 76,56 dan WTI naik US$ 2,26 (3,2 %) menjadi US$ 72,70 setelah Trump menyatakan MOU "sudah berakhir". Strategi komoditas ING menilai bahwa meski tidak mengubah struktur fundamental pasar, langkah ini meningkatkan risiko kegagalan kesepakatan sementara, sehingga investor menambah eksposur pada energi. Kepala penelitian MST Marquee menambahkan bahwa pasar kini menganggap jalur Hormuz rapuh, mengingat gangguan dapat menurunkan lalu lintas di bawah 50 % dari level pra-perang, memperkuat tekanan pada harga. Kombinasi antara aksi militer dan pembatalan MOU memperkuat ekspektasi penurunan pasokan, yang tercermin dalam pergerakan harga terdekat.
Apa Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap Pasokan Energi Global Mengingat Selat Hormuz?
Kenaikan harga menandakan potensi gangguan signifikan pada jalur penyedia sekitar satu perlima pasokan minyak global yang melintasi Selat Hormuz. Detik menegaskan bahwa kontrol Iran atas selat tersebut menjadi senjata utama, sementara serangan baru meningkatkan risiko penutupan sebagian atau total jalur. Kontan menambahkan bahwa jika lalu lintas tetap di bawah 50 % dari tingkat sebelum konflik, kekurangan pasokan dapat menambah tekanan harga lebih lanjut. Selain itu, data American Petroleum Institute yang dikutip Kontan menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebanyak 2,4 juta barel pada pekan berakhir 3 Juli, memperkecil bantalan stok dan memperkuat bull market. Secara keseluruhan, gabungan ketegangan geopolitik dan penurunan inventaris memperkuat prospek harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.
Sumber : AI News