- Harga emas turun lebih dari 20% dari rekor tertinggi sekitar US$5.600 per troy ounce pada Januari menjadi sekitar US$4.000 per troy ounce akibat penguatan dolar AS, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan aksi ambil untung investor.
- Sejumlah lembaga keuangan memangkas target harga emas jangka pendek, namun mayoritas analis tetap optimistis prospek jangka panjang didukung pembelian bank sentral, risiko geopolitik, dan peran emas sebagai aset lindung nilai.
- Investor disarankan melakukan akumulasi secara bertahap saat harga melemah, alih-alih menginvestasikan seluruh dana sekaligus, mengingat volatilitas pasar masih tinggi.
Ipotnews - Harga emas telah kehilangan lebih dari 20% dari rekor tertingginya pada 2026, memicu pertanyaan di kalangan investor apakah pelemahan tersebut justru menjadi peluang untuk membeli logam mulia.
Setelah sempat melonjak hingga hampir US$5.600 per troy ounce pada Januari, harga emas kini bergerak di kisaran US$4.000 per troy ounce. Koreksi tajam ini terjadi setelah minat terhadap aset safe haven mereda seiring perubahan kondisi pasar global.
Penurunan harga emas dipicu oleh beberapa faktor utama. Penguatan dolar Amerika Serikat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar AS sehingga permintaan global melemah. Di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi juga mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika imbal hasil obligasi dan instrumen pendapatan tetap meningkat, biaya peluang untuk memiliki emas menjadi lebih besar. Selain itu, aksi ambil untung oleh investor setelah reli kuat pada kuartal pertama turut mempercepat koreksi harga.
Sejumlah lembaga keuangan pun memangkas proyeksi harga emas dalam jangka pendek. Goldman Sachs menurunkan target harga emas akhir 2026 menjadi US$4.900 per troy ounce dari sebelumnya US$5.400. UBS memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$3.850 hingga US$4.000 dalam waktu dekat, sementara Bank of America memangkas proyeksi rata-rata harga emas 2026 sebesar 14% menjadi US$4.360 per ounce akibat tingginya imbal hasil riil.
Analis Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, juga mengingatkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong sejumlah bank sentral menjual sebagian cadangan emasnya untuk menopang mata uang domestik.
Meski demikian, pandangan jangka panjang terhadap emas masih relatif positif. Strategis Multi-Asset DBS Group Research, Sherilyn Chew, menilai level US$4.000 per troy ounce merupakan area dukungan yang cukup kuat selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung. Namun, kenaikan harga menuju US$4.200 atau lebih tinggi kemungkinan baru terjadi apabila imbal hasil riil mulai menurun.
Optimisme jangka panjang juga didukung oleh berlanjutnya pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara. Menurut HSBC , tren tersebut memperkuat posisi emas sebagai aset cadangan yang tidak bergantung pada sistem dolar AS sekaligus menjadi instrumen diversifikasi portofolio.
Manulife Investment Management juga tetap melihat prospek positif bagi emas. Meski porsinya dalam portofolio saat ini mungkin tidak dominan, perusahaan tersebut menilai emas masih memiliki nilai strategis sebagai aset pelindung jika inflasi kembali meningkat, kebijakan fiskal dan moneter menjadi lebih longgar, atau risiko geopolitik semakin memburuk.
Sejumlah institusi bahkan masih memproyeksikan kenaikan harga emas dalam beberapa kuartal mendatang. JP Morgan memperkirakan harga emas dapat mencapai US$6.000 per troy ounce pada kuartal IV tahun ini, sedangkan UBS memprediksi emas berpotensi naik menuju US$5.200 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan.
Amundi Investment Institute juga menilai emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang efektif untuk menjaga ketahanan portofolio pada paruh kedua tahun ini. Secara historis, emas cenderung memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan obligasi ketika inflasi berada pada level tinggi.
Para analis menyarankan investor memanfaatkan setiap koreksi harga sebagai kesempatan untuk membangun posisi investasi secara bertahap, khususnya bagi mereka yang selama ini memiliki eksposur minim terhadap emas. Pendekatan pembelian secara berkala dinilai lebih tepat dibandingkan menginvestasikan seluruh dana sekaligus, sehingga investor dapat memanfaatkan periode pelemahan harga di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. Berbagai instrumen seperti reksa dana berbasis emas, exchange-traded fund (ETF), maupun emas digital dapat menjadi pilihan sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing investor.(Businesstimes.com.sg)
Sumber : Admin