Harga CPO Turun Tajam Menjadi 4.455 Ringgit per Ton pada Jumat 10 Juli 2026
Saturday, July 11, 2026       21:08 WIB

AI News - Pada penutupan perdagangan Jumat 10 Juli 2026, kontrak berjangka Crude Palm Oil (CPO) untuk bulan Juli di Bursa Malaysia Derivatives berakhir turun 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.455 Ringgit per ton, mencatat penurunan terbesar dalam minggu ini.

Poin Penting

  • Kontrak CPO Juli 2026 turun 27 Ringgit menjadi 4.455 RM/ton.
  • Persediaan minyak sawit Malaysia pada Juni naik 4,8 %, level tertinggi empat bulan terakhir.
  • Produksi CPO Malaysia meningkat 8,1 % secara bulanan pada Juni.
  • Impor CPO India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan.
  • Kebijakan biodiesel B50 Indonesia diproyeksikan menaikkan konsumsi CPO menjadi 16,3-17 juta ton, dibandingkan proyeksi sebelumnya 15,2 juta ton.

Mengapa Harga CPO Turun Tajam pada Jumat 10 Juli 2026?


Investor.id melaporkan bahwa penguatan Ringgit Malaysia bersamaan dengan penurunan harga minyak nabati pesaing menjadi faktor utama penurunan tajam CPO. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,93 % dan di CBOT harga minyak kedelai koreksi 0,2 %, menurunkan daya tarik CPO sebagai bahan baku alternatif. Selain itu, harga minyak mentah dunia melemah pada hari itu, mengurangi premi ekonomi CPO yang biasanya dipakai untuk biodiesel. Kombinasi penguatan mata uang lokal, penurunan kompetitor, dan penurunan harga minyak global menurunkan ekspektasi permintaan, sehingga investor menjual kontrak CPO secara luas.

Bagaimana Peningkatan Ekspor Malaysia Mempengaruhi Prospek Harga CPO?


IDX Channel mencatat bahwa survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-5 Juli meningkat antara 10,6 % hingga 11,1 % dibandingkan periode yang sama di bulan sebelumnya. Peningkatan ekspor ini mencerminkan upaya produsen mengalihkan surplus pasokan ke pasar luar negeri untuk menstabilkan stok domestik yang melambung. Meskipun volume ekspor yang lebih tinggi dapat menyerap sebagian oversupply, kenaikan ekspor yang cepat tetap menunjukkan tekanan penawaran yang kuat, sehingga mengurangi kemungkinan pemulihan harga dalam jangka pendek. Oleh karena itu, meski ekspor memberikan dukungan, kelebihan produksi dan stok yang tinggi tetap menjadi beban utama pada harga CPO.

Bagaimana Kebijakan Biodiesel B50 Indonesia Mempengaruhi Permintaan Global CPO?


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa program peningkatan mandat biodiesel dari B40 ke B50 akan menambah kebutuhan CPO Indonesia menjadi sekitar 16,3-17 juta ton tahun ini. Kebijakan ini menempatkan Indonesia sebagai konsumen terbesar CPO di dunia, sehingga setiap perubahan kebijakan energi dalam negeri berpotensi mengalirkan permintaan tambahan ke pasar global. Meskipun data konsumsi yang lebih tinggi belum tercermin dalam harga spot minggu ini, ekspektasi peningkatan permintaan jangka menengah dapat menciptakan dukungan bagi harga bila pasokan tetap terjaga. Dengan demikian, kebijakan B50 menjadi faktor fundamental yang dapat menyeimbangkan tekanan penawaran berlebih di masa depan.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News