AI News - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives naik tajam pada Rabu 8 Juli 2026, dengan kontrak Desember 2026 meningkat 69 Ringgit menjadi 4.694 Ringgit per ton, dipicu pelemahan ringgit, kenaikan minyak nabati, dan reli minyak mentah.
Poin Penting
- Kontrak CPO Desember 2026 naik 69 Ringgit menjadi 4.694 RM/ton pada penutupan Rabu 8 Juli 2026.
- Ekspor minyak sawit Malaysia meningkat 10,6 %-11,1 % pada periode 1-5 Juli dibandingkan Juni.
- Ringgit Malaysia melemah sekitar 0,07 % terhadap dolar AS, menurunkan biaya CPO bagi pembeli asing.
- Impor minyak sawit India pada Juni tercatat terendah dalam 14 bulan, menandakan penurunan permintaan.
- Impor kedelai Uni Eropa turun 3 % menjadi 14,1 juta ton, sementara impor minyak sawit turun 4 % menjadi 2,9 juta ton.
Mengapa Harga CPO Naik Tajam pada Rabu 8 Juli 2026?
Investor.id melaporkan bahwa lonjakan harga CPO disebabkan oleh tiga faktor utama: pelemahan ringgit Malaysia sekitar 0,07 % terhadap dolar AS, reli harga minyak mentah global yang naik lebih dari 2 % setelah serangan udara AS terhadap Iran, serta kenaikan harga minyak nabati di China dan Amerika Serikat. Kenaikan tersebut memicu permintaan biodiesel yang meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku, sehingga kontrak berjangka CPO untuk bulan-bulan berikutnya semuanya mencatat kenaikan antara 20-69 Ringgit. Data BMD menunjukkan kontrak Juli 2026 naik 20 Ringgit menjadi 4.503 RM/ton, sementara kontrak November 2026 melesat 67 Ringgit menjadi 4.668 RM/ton. Kombinasi faktor nilai tukar, harga energi, dan permintaan bahan bakar alternatif menjadikan CPO lebih kompetitif di pasar internasional, menegaskan tekanan bullish pada harga.
Bagaimana Sentimen Ekspor dan Permintaan Global Mempengaruhi Harga CPO?
IDX Channel mencatat bahwa peningkatan ekspor minyak sawit Malaysia sebesar 10,6 %-11,1 % pada 1-5 Juli memberikan dukungan signifikan bagi harga CPO, terutama ketika pasar mengantisipasi laporan bulanan MPOB . Di sisi lain, penurunan impor minyak sawit India pada Juni, yang mencapai level terendah dalam 14 bulan, menandakan melemahnya salah satu konsumen terbesar dunia. Selain itu, data Uni Eropa menunjukkan penurunan impor kedelai sebesar 3 % dan minyak sawit sebesar 4 %, mencerminkan pergeseran permintaan global menuju alternatif lain atau penurunan konsumsi total. Kombinasi dari peningkatan ekspor regional dengan permintaan luar negeri yang berfluktuasi menciptakan dinamika harga yang kompleks, di mana kelebihan pasokan dapat menahan kenaikan lebih lanjut, namun faktor geopolitik energi tetap mendorong harga ke atas.
Apa Risiko Penurunan Permintaan India terhadap Harga CPO ke Depan?
Menurut Investor.id, penurunan impor minyak sawit India pada Juni-yang berada pada level terendah dalam 14 bulan-menjadi sinyal risiko utama bagi pasar CPO karena India menyerap lebih dari 30 % konsumsi global. Kelemahan permintaan ini disebabkan oleh selisih harga yang menyempit antara CPO dan minyak nabati pesaing, serta penurunan aktivitas industri di India. Menunggu rilis laporan MPOB , pelaku pasar tetap berhati-hati karena data persediaan tinggi pada Juni dapat memperkuat persepsi oversupply. Jika permintaan India tidak pulih dan persediaan tetap melimpah, tekanan jual dapat mengurangi keuntungan bagi eksportir dan menurunkan harga kontrak di minggu-minggu berikutnya. Oleh karena itu, investor dan pedagang harus memantau data MPOB serta indikator permintaan India untuk menilai potensi koreksi harga.
Sumber : AI News