- CPO naik 0,48% ke 4.982 ringgit/ton.
- Kenaikan tertahan lemahnya ekspor dan turunnya kedelai.
- CPO berpeluang menuju 5.031 ringgit/ton.
Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat, Kamis, ditopang kenaikan harga minyak sawit olahan di bursa Dalian. Namun, penguatan tersebut tertahan oleh lemahnya permintaan ekspor dan penurunan harga minyak kedelai Chicago.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 24 ringgit atau 0,48% menjadi 4.982 ringgit (USD1.233,17) per ton hingga jeda perdagangan siang, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Kamis (3/9).
"CPO berjangka diperdagangkan lebih tinggi karena mendapat dukungan dari palm olein Dalian yang melonjak lebih dari 100 yuan," ujar trader yang berbasis di Kuala Lumpur.
Namun, ruang kenaikan harga CPO masih terbatas. Kepala Riset komoditas perusahaan pialang Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan tidak adanya pembelian baru dari negara tujuan, ditambah pelemahan harga minyak kedelai di Chicago serta ekspektasi meningkatnya stok akhir CPO Malaysia pada Agustus, menjadi faktor penahan.
Survei sejumlah pengawas kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang Agustus merosot antara 6,5% hingga 14,9% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut memperlihatkan permintaan dari pasar ekspor masih menjadi salah satu tantangan utama bagi harga CPO.
Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif melompat 0,96%, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 0,85%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,62%.
Pergerakan CPO turut mengikuti dinamika harga minyak pesaing karena keduanya berkompetisi untuk memperoleh pangsa dalam pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Faktor lain yang membatasi kenaikan CPO adalah pelemahan harga minyak mentah dunia. Harga minyak turun ketika investor mempertimbangkan ketidakpastian akibat kembali terjadinya serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.
Penurunan harga minyak mentah membuat sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit, yang menjadi mata uang perdagangan CPO, menguat 0,02% terhadap dolar AS, membuat komoditas ini sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Meski menghadapi sejumlah tekanan, prospek teknikal CPO masih menunjukkan peluang kenaikan. Analis teknikal Reuters Wang Tao memperkirakan harga minyak sawit berpotensi kembali menguji level tertinggi pada 21 Agustus sebesar 5.031 ringgit per ton.
Perkiraan tersebut muncul setelah harga CPO hampir sepenuhnya pulih dari penurunan menuju level terendah 28 Agustus di 4.799 ringgit per ton. (Reuters/AI)
Sumber : Admin