- Harga minyak Brent turun 3,37% ke US$87,33 per barel, level terendah sejak awal Maret, karena pasar semakin optimistis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
- Harapan dibukanya kembali Selat Hormuz dan normalisasi pasokan minyak global menekan harga minyak, meskipun sejumlah analis memperingatkan bahwa persediaan minyak dunia masih berada pada level rendah.
- OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026 menjadi 970.000 barel per hari, sementara Goldman Sachs menurunkan proyeksi rata-rata harga Brent tahun 2027 menjadi US$80 per barel.
Ipotnews - Harga minyak mentah Brent turun ke level terendah sejak awal Maret karena para pelaku pasar semakin yakin bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan segera tercapai.
Kontrak berjangka Brent ditutup pada US$87,33 per barel, turun US$3,05 atau 3,37%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada US$84,88 per barel, turun US$2,83 atau 3,23%. Level tersebut merupakan yang terendah bagi WTI sejak 17 April.
"Yang membuat pasar bergerak turun adalah pernyataan Iran bahwa ada memorandum of understanding (dengan AS)," kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Sebuah memorandum antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan perang di kawasan Teluk dapat ditandatangani paling cepat pada Minggu, kata seorang sumber Barat kepada Reuters pada Jumat, dengan Jenewa muncul sebagai lokasi yang paling mungkin digunakan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada Jumat bahwa memorandum of understanding tersebut belum ditandatangani dan masih dapat mengalami perubahan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan ancaman serangan udara terhadap Iran pada Kamis, sementara kantor berita Mehr Iran melaporkan bahwa negosiasi akhir mengenai memorandum tersebut akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, namun tidak mencakup pembahasan mengenai program rudal Iran.
Sementara itu, kantor berita IRNA Iran menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai isu nuklir akan berlangsung dalam periode 60 hari setelah memorandum ditandatangani.
"Berita utama kembali menggerakkan pasar seiring meningkatnya keyakinan bahwa kesepakatan pada akhirnya akan tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka," kata Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates.
Namun demikian, terdapat satu catatan penting, yaitu bahwa persediaan minyak global maupun regional masih rendah dan dapat terus menurun bahkan jika kesepakatan tercapai, karena dibutuhkan waktu untuk memastikan kelancaran kembali arus pasokan minyak, tambahnya.
Pada Kamis, Iran mengumumkan penutupan total selat tersebut dan menyatakan akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas. Lalu lintas di selat yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu menjadi sangat terbatas akibat perang.
Namun, militer Amerika Serikat menyatakan melalui media sosial bahwa kapal-kapal komersial masih terus melintasi jalur perairan tersebut.
"Kami percaya pasar akan mencapai titik balik pada akhir Juli apabila arus pasokan minyak belum kembali normal hingga saat itu," kata para analis ING dalam sebuah catatan. "Pada saat itulah tingkat persediaan dan peningkatan musiman permintaan akan mendorong harga naik signifikan menuju kisaran US$120 hingga US$130 per barel."
John Kilduff dari Again Capital mengatakan bahwa kesepakatan tidak bisa datang pada waktu yang lebih tepat. "Situasi ini benar-benar tidak dapat berlangsung lebih lama lagi sebelum terjadi kekurangan pasokan," ujarnya.
Goldman Sachs menurunkan proyeksi rata-rata harga Brent tahun 2027 menjadi US$80 per barel karena pasokan yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih rendah, namun tetap memperkirakan harga akan melampaui rata-rata tahun 2025 berkat penumpukan persediaan minyak komersial negara-negara OECD dan premi risiko keamanan akibat gangguan pasokan.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak ( OPEC ) pada Kamis menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026 menjadi 970.000 barel per hari dari sebelumnya 1,17 juta barel per hari. Ini merupakan revisi penurunan kedua secara berturut-turut.
Kelompok produsen tersebut juga menyatakan bahwa konsumsi pada akhirnya akan kembali meningkat. OPEC memperkirakan permintaan minyak pada tahun 2027 akan naik sebesar 1,73 juta barel per hari, atau 190.000 barel per hari lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
(reuters)
Sumber : admin