Pada artikel sebelumnya yang berjudul ' Hidup Yang Berkualitas' kita telah membahas banyak hal tentang hal-hal yang menentukan kualitas hidup seseorang, yaitu: (1) daya beli, (2) keamanan, (3) layanan kesehatan, (4) biaya hidup, (5) harga property, (6) kemacetan lalu lintas, (7) polusi, dan (8) kualitas udara. Intinya, untuk hidup yang nyaman (berkualitas), penghasilan (gaji) bukanlah satu-satunya faktor yang harus diperhatikan.
Sesungguhnya, menikmati kehidupan yang berkualitas adalah lebih penting daripada sekadar memperoleh gaji yang besar, tetapi hidup penuh tekanan ( stress ) atau pun hidup yang penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran ( anxiety ). Walau pun demikian, faktor penghasilan (gaji) masih merupakan faktor yang paling dominan yang menentukan pilihan seseorang akan pakerjaan ( job ), maupun tempat untuk tinggal.
Pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang hal-hal yang wajib dipertimbangkan para pekerja (karyawan) pada waktu mengevaluasi tawaran kerja (selain gaji). Artikel ini kami tulis dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang jelas kepada para pembaca setia Ipotnews yang barangkali sedang mempertimbangkan suatu penawaran kerja.
Perlu diingat bahwa survei ini dilakukan di AS tahun 2025, dan dilakukan oleh satu perusahaan asuransi (di US, asuransi kesehatan adalah asuransi yang wajib dimiliki setiap orang). Asuransi kesehatan dapat dijual baik oleh Perusahaan Asuransi Jiwa ( Life Insurance ) mau pun oleh Perusahaan Asuransi Kerugian (General Insurance). Survei ini, karena disponsori oleh perusahaan asuransi, kemungkinan besar hasilnya akan cenderung bias terhadap manfaat-manfaat yang dapat diterima dari adanya asuransi (kesehatan).
Apa pertimbangan para pekerja sebelum menerima suatu tawaran pekerjaan (selain gaji)?
Satu survei yang dilakukan oleh AFLAC = American Family Life Assurance Company, salah satu perusahaan supplemental asuransi terbesar di US, yang berjudul: Employee Financial Fragility and the Value of Supplemental Insurance (2025) , menunjukkan bahwa, setelah gaji, masih ada lima faktor lain yang dipertimbangkan oleh para pekerja pada waktu mengevaluasi penawaran kerja yang masuk:
- manfaat kesehatan ( health benefi t),
- keseimbangan antara kerja dan hidup ( work-life balance ),
- keamanan kerja ( job security ),
- cuti berbayar ( paid time off ), dan
- jadwal kerja yang fleksibel ( flexible schedule ).
Catatan: manfaat kesehatan ( health benefit ) ada di urutan pertama, yang berarti bahwa, menurut survei ini, manfaat kesehatan merupakan pertimbangan paling penting dalam mengevaluasi suatu tawaran pekerjaan, setelah gaji.
Apakah semua pekerja mengkhawatrikan biaya pemeliharaan kesehatan?
Dengan lain perkataan, menurut survei tersebut, banyak dari para pekerja (karyawan) di AS yang di-survei yang tidak merasa aman ( secured ) secara keuangan, walau pun sudah menerima gaji yang menurut mereka cukup fair dan memuaskan.
Biaya pemeliharaan kesehatan (di luar biaya yang sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi) tetap selalu menjadi sumber kekhawatiran terbesar dari para karyawan. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat bahwa naiknya biaya hidup ( cost of living ) dan kecemasan ( anxiety ) akan biaya-biaya pemeliharaan kesehatan ( health care ) telah mengakibatkan tumbuhnya perasaan ketidak-stabilan ( instability ) dan ketidak-pastian ( uncertainty ) akan masa depan.
Terlihat bahwa para pekerja berusia muda, ternyata sangat khawatir akan besarnya biaya pemeliharaan kesehatan (di luar biaya yang ditanggung oleh perusahaan asuransi):
- 61% dari pekerja golongan Gen Z (kelahiran 1997 sd 2012),
- 52% dari pekerja golongan millennials (kelahiran 1981 sd 1996),
- 50% dari pekerja gonongan Gen X (kelahiran 1965 sd 1980), dan
- 47% dari Baby Boomers (kelahiran 1946 sd 1964).
Gaji ( Salary ) vs Manfaat Jabatan ( Non-Salary Benefits )
Menurut survei terbaru pada para pekeja di AS ini, pertimbangan akan biaya-biaya pemeliharaan kesehatan ( health care expenses ) yang semakin meningkat membuat para pekerja di AS tidak lagi melihat faktor gaji sebagai satu-satunya pertimbangan ketika mengevaluasi kesempatan kerja.
Bagi banyak pekerja, manfaat jabatan ( non-salary benefits ) dan fleksibilitas pekerjaan ( job flexibility ) juga memberikan perasaan adanya keamanan dan kestabilan ( security and stability ) yang membuat suatu tawaran kerja terasa lebih menarik.
Bagaimana dengan situasi di Indonesia? Penulis belum menemukan adanya penelitian ( study ) yang dilakukan terhadap para pekerja di Indonesia. Pada situasi saat ini, di mana kesempatan kerja yang tersedia masih sangat terbatas, tentu saja banyak calon pekerja di Indonesia yang tidak memiliki posisi tawar ( bargaining position ) yang besar.
Calon pekerja (karyawan) yang memiliki posisi tawar yang tinggi umumnya hanya pekerja pada bidang-bidang tertentu yang masih terbatas jumlahnya. Walau pun demikian, kami merasa bahwa kita tetap harus membuka mata atas hal-hal yang sedang terjadi di luar negeri, karena hal-hal tersebut suatu saat mungkin akan terjadi juga di negara kita.
Oleh : Fredy Sumendap, CFA
Sumber : IPS