Greenback Perkasa di Tengah Konflik, Kiwi Melompat Usai Kenaikan Bunga
Wednesday, July 08, 2026       13:46 WIB
  • Dolar menguat ke level tertinggi sepekan akibat ketegangan AS-Iran.
  • Dolar Selandia Baru melonjak setelah bank sentral menaikkan suku bunga.
  • Yen tertekan karena prospek kenaikan suku bunga BOJ terbatas.

Ipotnews - Dolar AS bertahan di sekitar level tertinggi dalam sepekan, Rabu, setelah ketegangan baru antara Washington dan Teheran kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven.
Di sisi lain, dolar Selandia Baru melonjak setelah bank sentral negara tersebut menaikkan suku bunga dan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Rabu (8/7).
Greenback menguat 0,1% menjadi 162,33 yen, memperpanjang tren positif terhadap mata uang Jepang selama empat hari berturut-turut sekaligus membawa dolar ke level terkuat sejak 2 Juli.
Sentimen pasar kembali dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut terjadi setelah AS melancarkan serangkaian operasi militer terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Meski sempat bergerak lebih tinggi, dolar AS memangkas sebagian kenaikannya seiring berjalannya sesi perdagangan. Investor masih menilai konflik antara Washington dan Teheran belum kembali berkembang menjadi perang terbuka.
Analis DBS dalam laporan risetnya mengatakan pasar saat ini masih mengikuti skenario bahwa kedua negara berada dalam situasi tarik-menarik kepentingan untuk memperkuat posisi masing-masing selama masa gencatan senjata sementara.
Namun, DBS mengingatkan bahwa risiko utama masih berasal dari berakhirnya kesepakatan gencatan senjata sementara pada pertengahan Agustus serta potensi munculnya konflik terkait aturan biaya transit di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.
Pergerakan berbeda terlihat pada dolar Selandia Baru. Mata uang tersebut melonjak 0,5% ke level tertinggi USD0,5705 setelah Reserve Bank of New Zealand ( RBNZ ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,5%.
Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan sebagian besar ekonom. Bank sentral juga menyatakan pengurangan stimulus moneter lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Dolar Australia turut menguat 0,2% menjadi US$0,6943.
Analis Westpac menilai salah satu alasan utama di balik keputusan kenaikan suku bunga adalah kekhawatiran bahwa kondisi keuangan akan semakin longgar apabila suku bunga acuan tetap dipertahankan.
Di pasar valuta asing lainnya, euro bergerak stabil di level USD1,1415, sementara poundsterling Inggris bertahan di USD1,3351.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, turun 0,1% menjadi 101,05 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2 Juli.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent melambung 3,3% menjadi USD76,59 per barel dalam perdagangan Asia. Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak untuk hari kedua berturut-turut akibat meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Tekanan terhadap yen Jepang juga semakin besar. Mata uang tersebut bergerak mendekati level terendah baru dalam 40 tahun setelah anggota dewan Bank of Japan (BOJ), Toichiro Asada, menyatakan dirinya masih membutuhkan bukti bahwa inflasi Jepang benar-benar didorong oleh permintaan domestik sebelum mendukung kenaikan suku bunga tambahan.
Asada merupakan satu-satunya anggota dewan BOJ yang menentang keputusan bank sentral menaikkan suku bunga pada Juni. Pernyataannya memperkuat pandangan bahwa ruang bagi BOJ untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter masih terbatas. (Reuters/AI)

Sumber : Admin