Greenback Perkasa di Tengah Konflik AS-Iran, Yen Kembali Tertekan
Thursday, July 09, 2026       13:20 WIB
  • Dolar menguat karena ketegangan AS-Iran mendorong aset safe-haven.
  • Harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi dan suku bunga.
  • Yen melemah di tengah tekanan energi global.

Ipotnews - Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, Kamis, setelah meningkatnya kembali serangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu permintaan terhadap aset safe-haven.
Kenaikan tajam harga minyak juga memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral global, termasuk Federal Reserve, dapat mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi, demikian laporan  Reuters,  di Hong Kong, Kamis (9/7).
Dolar tercatat berada di level 162,425 yen Jepang, mendekati posisi terkuatnya dalam sepekan terakhir. Sementara itu, euro dan poundsterling Inggris bergerak relatif datar, masing-masing diperdagangkan di USD1,1426 dan USD1,3396.
Dolar Selandia Baru tetap mencatatkan performa positif setelah bank sentral negara tersebut menaikkan suku bunga pada perdagangan sebelumnya, dan memberikan sinyal kebijakan yang lebih agresif. Mata uang tersebut melanjutkan penguatan 0,5 persen menjadi USD0,5725. Dolar Australia juga naik 0,1 persen ke posisi USD0,6937.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, hanya mengalami perubahan kecil dan berada di 100,96.
Analis Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah mengguncang pasar global dan memasukkan kembali premi risiko perang ke dalam harga berbagai aset.
Menurut Rodda, dampak lanjutan paling signifikan dari lonjakan harga minyak adalah pengaruhnya terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga global. Kenaikan harga energi yang tajam berpotensi mempercepat waktu bagi the Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.
Militer AS menyatakan melancarkan serangan baru terhadap Iran beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah "berakhir". Pernyataan tersebut langsung mendorong harga minyak naik tajam.
Perkembangan tersebut menjadi pengingat bagi investor bahwa lonjakan harga energi dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. Dampaknya terlihat pada imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun dan 30 tahun yang melesat ke level tertinggi dalam tujuh pekan karena pasar mulai memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga yang lebih besar.
Tekanan terhadap pasar juga meningkat setelah risalah rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh, menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cenderung lebih hawkish di tengah kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi.
Berdasarkan data FedWatch CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga the Fed pada 2026 mencapai sekitar 87 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melompat 1,1 persen menjadi USD78,88 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga Brent pada perdagangan Rabu melonjak lebih dari 5 persen dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.
Yen Tertekan
Kenaikan harga minyak yang dipicu eskalasi konflik AS-Iran kembali memberikan tekanan terhadap yen Jepang. Pelemahan mata uang tersebut terjadi ketika investor mulai mempertanyakan daya tahan yen di tengah meningkatnya biaya energi global.
Yen berusaha pulih setelah menyentuh level 162,71 per dolar AS pada perdagangan malam sebelumnya, mendekati titik terendah dalam 40 tahun. Pergerakan tersebut menghapus sebagian besar penguatan mendadak yen pekan lalu yang hingga kini belum memiliki penjelasan resmi.
Penguatan tajam yen sebelumnya banyak diduga merupakan hasil intervensi tersembunyi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Namun, analis IG, Tony Sycamore, mengatakan langkah tersebut kemungkinan baru dapat dikonfirmasi secara resmi pada akhir bulan ketika Kementerian Keuangan Jepang merilis data intervensi valuta asing.
Menurut Sycamore, apakah level tersebut akan menjadi titik tertinggi yang lebih signifikan dalam jangka menengah akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika berikutnya serta perkembangan di pasar obligasi pemerintah Jepang.
Pergerakan yen selanjutnya akan menjadi perhatian investor, terutama karena pemerintah Jepang menghadapi tantangan menjaga stabilitas mata uang di tengah tekanan inflasi impor akibat kenaikan harga energi global. (Reuters/AI)

Sumber : Admin