Greenback Perkasa, Yen di Bawah Tekanan Jelang Pemilu Jepang
Thursday, February 05, 2026       04:11 WIB
  • Dolar menguat, sementara yen melemah hari keempat berturut-turut ke 156,82, tertekan risiko pemilu Jepang dan sinyal kebijakan fiskal longgar.
  • Sentimen AS mendukung dolar, ditopang data jasa ISM yang stabil dan ketidakpastian arah suku bunga the Fed akibat penundaan data tenaga kerja.
  • Mata uang utama lain melemah, euro dan Aussie turun, sementara Indeks DXY naik 0,24% ke 97,63.

Ipotnews - Dolar AS menguat terhadap yen, Rabu, menempatkan mata uang Jepang tersebut di jalur pelemahan untuk hari keempat berturut-turut. Tekanan pada yen muncul menjelang pemilu Jepang yang diperkirakan memperkuat ambisi fiskal dan peningkatan belanja pertahanan Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Greenback juga naik tipis terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, termasuk euro dan poundsterling, setelah Institute for Supply Management (ISM) melaporkan sektor jasa Amerika Serikat bertahan stabil pada Januari. Namun, meningkatnya biaya input memunculkan sinyal potensi kebangkitan kembali inflasi jasa setelah sebelumnya mereda, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (4/2) atau Kamis (5/2) pagi WIB.
Pasar mencermati laporan tersebut dengan saksama setelah penutupan sebagian pemerintahan AS, yang berakhir Selasa malam, menunda rilis data ketenagakerjaan penting yang semula dijadwalkan Jumat. Penundaan data hingga pekan depan menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Untuk sementara, pergerakan dolar masih tertahan dalam kisaran terbaru karena pelaku pasar menimbang apakah pelemahan tajam saham berbasis teknologi mencerminkan kondisi risk-off klasik--yang biasanya menguntungkan dolar--atau justru menandakan pelemahan pada "permata mahkota ekonomi Amerika, yakni sektor teknologi," kata Steve Englander, Kepala Riset Valuta Asing G10 Global di Standard Chartered Bank. "Saya pikir pasar masih kesulitan menentukan jawabannya."
Yen terakhir melemah 0,7% menjadi 156,82 per dolar AS, setelah sebelumnya menyentuh posisi terlemah sejak 23 Januari. Saat itu, yen sempat menguat tajam dari 159,23 per dolar di tengah spekulasi adanya pemeriksaan nilai tukar oleh Federal Reserve New York. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu membantah adanya intervensi Washington untuk menopang yen dan menegaskan kebijakan Amerika tetap mendukung dolar yang kuat. Secara keseluruhan, yen anjlok lebih dari 2% sejak 30 Januari.
Awal pekan ini, Takaichi memicu aksi jual yen setelah dalam pidato kampanyenya menyoroti manfaat mata uang yang lebih lemah. Meski kemudian menarik kembali pernyataannya, kekhawatiran masih muncul bahwa sinyal kebijakan yang tidak konsisten dari perdana menteri dapat menghambat upaya menstabilkan mata uang tersebut.
"Pasar saat ini digerakkan oleh risiko pemilu Jepang, pendinginan inflasi zona euro, serta fokus baru pada momentum pertumbuhan dan pasar tenaga kerja Amerika. Kondisi ini membuat dolar relatif didukung, sementara yen menjadi mata uang dengan kinerja terburuk," kata Joel Kruger, analis Group, London.
Dia menambahkan, perhatian pasar tertuju pada makna data aktivitas dan ketenagakerjaan yang akan datang bagi prospek kebijakan, dengan the Fed masih diperkirakan menahan suku bunga dalam waktu dekat. Tren tenaga kerja yang lebih lemah berpotensi mempercepat ekspektasi pemangkasan suku bunga, sementara ketahanan ekonomi akan menunda pelonggaran, membuat pasar valuta asing dan obligasi sangat sensitif terhadap data makro.
Penguatan dolar juga terjadi pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump memilih mantan Gubernur Fed Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral ketika masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang terlalu longgar.
Warsh sebelumnya berpendapat bahwa peningkatan produktivitas dari kecerdasan buatan dapat membenarkan kebijakan yang lebih akomodatif, seraya menyerukan neraca the Fed yang lebih kecil--kombinasi yang berpotensi mempercuram kurva imbal hasil namun meninggalkan arah suku bunga secara keseluruhan tetap tidak pasti.
"Data terkini menunjukkan ekonomi masih stabil, tetapi belum cukup kuat untuk membentuk keyakinan berkelanjutan di pasar valuta asing," ujar Uto Shinohara, Senior Investment Strategist Mesirow Currency Management, Chicago. Dia menambahkan, perhitungan pasar terhadap kebijakan the Fed masih mencerminkan hampir dua kali pemangkasan suku bunga.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,24% ke level 97,63.
Dolar Australia melemah 0,37% jadi USD0,6996, setelah melonjak 1% pada sesi sebelumnya menyusul kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia.
Sementara itu, yuan China mencatat penguatan yang stabil. Meski analis menilai otoritas di Beijing akan menahan penguatan lebih lanjut, risiko tetap mengarah ke atas dan berpotensi menguji ketahanan ekonomi China yang masih rapuh.
Euro melemah 0,11% menjadi USD1,1806 menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), Kamis. Investor menantikan sinyal mengenai sejauh mana penilaian nilai tukar euro dapat memengaruhi arah kebijakan moneter.
Pekan lalu, mata uang tunggal Eropa itu sempat menyentuh level tertinggi dalam 4,5 tahun di USD1,2084, di tengah kekhawatiran pembuat kebijakan atas apresiasi euro yang terlalu cepat dan berpotensi menekan inflasi, yang diperkirakan sudah berada di bawah target ECB sebesar 2%.
Analis menilai pergerakan euro terhadap dolar belakangan ini hampir sepenuhnya didorong oleh sentimen terhadap greenback, sementara perbedaan suku bunga antarwilayah cenderung berada di latar belakang. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru
An error occurred.