Greenback Menguat Empat Sesi Beruntun di Tengah Kekhawatiran Inflasi
Wednesday, July 22, 2026       04:41 WIB
  • Dolar AS menguat didukung lonjakan harga minyak.
  • Indeks DXY naik ke 101,16.
  • Pasar melihat peluang suku bunga the Fed tetap tinggi.

Ipotnews - Dolar AS menguat, Selasa, dan berada di jalur kenaikan untuk hari keempat berturut-turut, didorong lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kembali kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Sentimen pasar dipengaruhi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia memutar balik pelayarannya di Laut Merah menyusul ancaman kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Konflik yang meluas itu mengganggu jalur pelayaran di dua titik penting distribusi energi dunia.
Senin, Amerika menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap Iran, menandai malam ke-10 berturut-turut operasi militer Washington di negara tersebut, demikian laporan  Reuters,  di New York, Selasa (21/7) atau Rabu (22/7) pagi WIB.
Harga minyak mentah AS (WTI) melonjak 2,09 persen menjadi USD84,97 per barel, sementara Brent menguat 1,88 persen menjadi USD90,90 per barel setelah sempat menyentuh USD91,99, level tertinggi sejak 11 Juni.
Sebelumnya, optimisme mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran sempat menekan harga minyak pada awal Mei. Selain itu, data inflasi AS yang lebih jinak juga sempat meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan kebijakan pekan depan.
Namun dalam beberapa hari terakhir, harga minyak kembali melompat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Pada saat yang sama, sejumlah pejabat the Fed, termasuk Chairman Kevin Warsh, menyampaikan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih bertahan.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, naik 0,17 persen menjadi 101,16. Sementara itu, euro melemah 0,11 persen ke level USD1,1402. Jika tren ini berlanjut, dolar akan mencatat rentetan penguatan harian terpanjang sejak pertengahan Mei.
Direktur Manajemen Risiko Valuta Asing dan Logam Mulia Silver Gold Bull, Erik Bregar, menilai pasar kini semakin realistis dalam memperhitungkan dampak konflik Timur Tengah terhadap kebijakan moneter Amerika.
"Kita kini memasuki malam ke-10 serangan terhadap Iran, sehingga pasar menilai situasi ini secara rasional. The Fed bersikap hawkish dan saya rasa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko tersebut. Semakin lama konflik di Timur Tengah berlangsung, semakin besar peluang the Fed akan terdengar lebih hawkish," ujarnya.
Meski konflik terus berlangsung, upaya diplomasi masih berjalan. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada  Reuters  bahwa Teheran telah menerima proposal dari para mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan respons jika kelompok Houthi benar-benar melaksanakan ancaman untuk memblokade jalur pelayaran komersial di Laut Merah.
Data FedWatch Tool CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin atau lebih pada pertemuan pekan depan meningkat menjadi 21,9 persen, dibandingkan sekitar 11 persen pada pekan lalu. Namun angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan peluang 38,5 persen yang tercatat sebulan lalu. Untuk pertemuan September, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 68,2 persen.
Dolar Kanada melemah 0,27 persen menjadi 1,411 per dolar AS setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Pelemahan terjadi setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif baru sebesar 50 persen terhadap berbagai produk Kanada sebagai respons atas apa yang disebut Washington sebagai perlakuan diskriminatif terhadap mobil, minuman beralkohol, dan produk susu buatan AS.
Sementara itu, poundsterling turun 0,39 persen menjadi USD1,3376, menandai pelemahan untuk empat sesi berturut-turut. Investor mencermati prospek peningkatan belanja pemerintah Inggris serta strategi pendanaan yang akan ditempuh Menteri Keuangan baru John Healey.
Andy Burnham resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris, Senin, dan menegaskan komitmennya untuk tetap mematuhi aturan fiskal yang diterapkan pemerintahan sebelumnya. Pada saat yang sama, mantan Menteri Pertahanan John Healey ditunjuk sebagai Menteri Keuangan yang baru.
Data pasar tenaga kerja Inggris memperlihatkan kondisi ketenagakerjaan mulai stabil meskipun masih berada pada level yang relatif lemah. Data resmi menunjukkan pertumbuhan upah tahunan dan tingkat pengangguran tidak berubah dalam tiga bulan hingga Mei, sementara jumlah pekerja yang menerima gaji pada Juni relatif stagnan meski terjadi gejolak politik dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Ekonom Barclays untuk Inggris, Jack Meaning, mengatakan data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja yang longgar dengan tekanan kenaikan upah yang terbatas, namun belum mengindikasikan tanda-tanda pelemahan yang lebih tajam.
Perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan berlangsung pekan ini. Mayoritas ekonom yang disurvei  Reuters  memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini, meski masih berpeluang mengatrol setidaknya sekali lagi sebelum akhir tahun.
Di Asia, yen Jepang melemah 0,41 persen terhadap dolar AS menjadi 163,14 per dolar, menembus level 163 untuk pertama kalinya sejak Desember 1986. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang guna menahan tekanan terhadap mata uangnya. (Reuters/AI)

Sumber : Admin