- Dolar AS naik ke level tertinggi tujuh pekan.
- Konflik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga mendukung dolar.
- Yen menguat ke 159,50 per dolar, mendekati level 160.
Ipotnews - Dolar AS melesat ke level tertinggi tujuh pekan, Rabu, ketika investor meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut di tengah kekhawatiran mengenai dampak ekonomi dari gejolak harga energi. Pelaku pasar juga mencermati perbedaan arah kebijakan moneter di antara bank sentral utama dunia.
Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam kondisi perang, Rabu, setelah kedua negara terlibat pertukaran serangan paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih aman, seperti dilansir Reuters, di Singapura, Rabu (2/9).
Dolar AS cenderung mendapat keuntungan ketika harga minyak melejit karena perekonomian Amerika Serikat relatif lebih tidak rentan terhadap guncangan energi dibandingkan sejumlah ekonomi utama lainnya. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang seperti euro dan yen.
Perbedaan arah kebijakan suku bunga juga semakin menjadi perhatian. Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunganya setelah kenaikan yang diprediksi terjadi pekan depan. Sebaliknya, Federal Reserve menghadapi risiko semakin besar untuk memperketat kebijakan moneter pada 2027.
"Kami memperkirakan ECB akan menyelesaikan siklus kenaikan suku bunganya pada akhir tahun, sementara Federal Reserve kemungkinan baru akan mulai menaikkan suku bunga," kata George Brown, ekonom Schroders.
Menurut Brown, perbedaan suku bunga tersebut berpotensi semakin menguntungkan dolar AS dan menekan euro. Schroders saat ini mengambil posisi yang mengantisipasi pelemahan euro dan memperkirakan mata uang tunggal Eropa tersebut dapat merosot hingga USD1,10 terhadap dolar pada akhir tahun.
Namun, penguatan dolar tidak sepenuhnya tanpa risiko. Aksi jual US Treasury akibat kekhawatiran mengenai inflasi dan kondisi fiskal Amerika Serikat dapat memberikan tekanan terhadap mata uang tersebut. Lonjakan utang pemerintah dan tekanan harga yang terus bertahan berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai daya tarik aset Amerika dalam jangka panjang.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama termasuk yen dan euro, naik 0,11% menjadi 99,76 setelah mencapai 99,808, level tertinggi sejak 17 Agustus.
Euro melemah 0,16% menjadi USD1,1575 setelah sempat menyentuh USD1,1570, level terendah sejak 20 Agustus.
Kenaikan dolar berlangsung bersamaan dengan lonjakan yield obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melesat hingga 4,812%, level tertinggi sejak November 2023, sebelum turun kembali menjadi 4,804%.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melanjutkan kenaikannya menjadi 3,01%, Rabu, setelah menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade pada Selasa.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Angka tersebut meningkat tajam dari sekitar 40% sepekan sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Yen Dekati 160
Yen Jepang menguat 0,45% menjadi 159,50 per dolar setelah sebelumnya melemah ke posisi terendah sejak 31 Juli. Posisi yen kini kembali berada tepat di atas ambang psikologis 160 per dolar, sementara investor menilai arah kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan kenaikan suku bunga secara berturut-turut dapat menjadi salah satu kemungkinan kebijakan bank sentral Jepang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyampaikan dukungan kuat terhadap langkah-langkah moneter yang "tegas" untuk mengatasi depresiasi yen dalam pertemuannya dengan Ueda, menurut Departemen Keuangan Amerika.
Pada akhir Juli, Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi bersama yang jarang terjadi untuk menopang yen. Langkah tersebut sempat menarik yen menjauh dari level terendah dalam 40 tahun di 163,99 per dolar. Namun, sejak saat itu yen kehilangan sekitar separuh keuntungan yang diperolehnya setelah intervensi tersebut.
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan kemungkinan terjadinya intervensi terkoordinasi berikutnya masih kecil selama belum ada tanda-tanda deeskalasi di Selat Hormuz yang dapat mengurangi tekanan terhadap harga minyak.
"Sepertinya kecil kemungkinan akan terjadi putaran intervensi terkoordinasi berikutnya sampai terdapat deeskalasi di Selat Hormuz yang dapat meredakan tekanan terhadap harga minyak," kata analis IG, Tony Sycamore.
Sementara itu, dolar Selandia Baru merosot 1,01% versus dolar AS menjadi USD0,5844, level terendah sejak 13 Agustus. Pelemahan terjadi meski bank sentral Selandia Baru menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 2,75%.
Analis mengatakan pelaku pasar menilai keputusan tersebut kurang hawkish atau agresif dibandingkan yang sebelumnya diharapkan. (Reuters/AI)
Sumber : Admin