Greenback Loyo Usai Sentuh Puncak Sepekan, Pasar Cermati Iran dan Risalah The Fed
Thursday, July 09, 2026       04:27 WIB
  • Indeks DXY turun 0,2% ke 100,98.
  • Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat jadi 65,7%.
  • Dolar tertekan di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran.

Ipotnews - Dolar AS melemah, Rabu, setelah mencapai level tertinggi dalam sekitar satu pekan. Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman sementara yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah berakhir, sementara pelaku pasar juga mencermati risalah rapat terbaru Federal Reserve yang mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Trump mengatakan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang dengan Iran sudah tidak berlaku lagi. Dia juga menyebut Amerika Serikat kemungkinan akan melancarkan serangan baru pada Rabu malam setelah serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (8/7) atau Kamis (9/7) pagi WIB.
Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak memperkirakan konflik akan berkembang kembali menjadi perang terbuka. Selain itu, belum ada kepastian apakah negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai permanen masih akan berlanjut.
Ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melompat 4,36% menjadi USD73,51 per barel, sedangkan minyak Brent melambung 5,23% ke USD78 per barel. Imbal hasil US Treasury juga bergerak lebih tinggi.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, turun 0,2% ke posisi 100,98 setelah sebelumnya sempat menyentuh 101,27. Sementara itu, euro menguat 0,12% menjadi USD1,1425.
"Posisi beli agak ramai, yang menurut saya menunjukkan penguatan dolar sepenuhnya mencerminkan gagasan bahwa the Fed akan turun tangan dan menaikkan suku bunga serta mendukung perbedaan suku bunga untuk Amerika. Hal ini juga sebagian besar mencerminkan risiko geopolitik," kata Thomas Urano, Co-Chief Investment Officer Sage Advisory Sage Advisory di Austin, Texas, yang juga mencatat dolar AS mengalami kenaikan yang kuat dari titik terendah akhir Januari tahun ini.
"Hal ini hanya menempatkan dolar pada posisi yang sedikit rentan terhadap koreksi."
Meski dolar melemah, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve justru meningkat. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Juli naik menjadi 30,5% dari sebelumnya 26,7%. Untuk pertemuan September, probabilitas kenaikan suku bunga meningkat menjadi 65,7% dibandingkan 61,9% pada sesi sebelumnya.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Selandia Baru menguat 0,49% menjadi USD0,5705, meski sempat bergerak lebih tinggi pada awal perdagangan. Penguatan tersebut terjadi setelah Reserve Bank of New Zealand ( RBNZ ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,5%, sesuai dengan perkiraan mayoritas ekonom.
RBNZ menyatakan pengurangan stimulus moneter lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan guna mengendalikan tekanan inflasi.
Analis Goldman Sachs menilai langkah tersebut menandai dimulainya siklus kenaikan suku bunga di Selandia Baru, meski diperkirakan berlangsung relatif singkat. Menurut mereka, kebijakan tersebut menjadi faktor positif bagi dolar Selandia Baru dan mencerminkan penyesuaian kondisi ekonomi serta kebijakan moneter negara tersebut terhadap negara-negara maju lainnya yang tergabung dalam kelompok G10.
Sementara itu, risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni, yang merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh, memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran pejabat bank sentral terhadap inflasi yang masih tinggi.
Dokumen itu juga mengungkapkan bahwa sejumlah peserta rapat menilai terdapat alasan yang cukup kuat untuk segera menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut.
Urano mengatakan pasar masih perlu mempertimbangkan kemungkinan the Fed kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun mengingat tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Versus yen Jepang, dolar AS menguat 0,23% menjadi 162,46 yen dan berada di jalur kenaikan harian keempat berturut-turut. Pergerakan tersebut terjadi ketika pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi otoritas Jepang untuk menopang mata uang domestik yang terus tertekan.
Sementara itu, poundsterling Inggris menguat 0,37% menjadi USD1,3401 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan di USD1,341. (Reuters/AI)

Sumber : Admin