- Yen stabil, dolar dekat level terendah enam pekan.
- Optimisme damai AS-Iran menekan dolar.
- Pasar menanti arah kebijakan BOJ dan the Fed.
Ipotnews - Yen Jepang bergerak stabil, Rabu, setelah intervensi bersejarah yang dilakukan bersama Amerika Serikat, sementara dolar AS bertahan di dekat level terendah enam pekan versus mata uang utama lainnya, dipicu berkurangnya permintaan terhadap aset safe-haven seiring meningkatnya harapan bahwa konflik Timur Tengah mendekati penyelesaian.
Yen diperdagangkan sedikit menguat di level 157,72 per dolar AS setelah sehari sebelumnya melemah 0,4 persen. Senin, mata uang Jepang itu sempat menguat hingga 155,20 per dolar setelah sebelumnya terpuruk ke sekitar 164 per dolar, level terlemah dalam empat dekade, hanya sepekan sebelumnya, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (5/8) atau Kamis (6/8) pagi WIB.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan pemerintah akan melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk mendukung upaya Jepang menstabilkan yen. Pernyataan tersebut mengingatkan pada komitmen mantan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Mario Draghi, pada 2012 yang berjanji melakukan segala cara untuk mempertahankan euro di tengah krisis utang kawasan.
Kepala Strategi Pasar Bannockburn Capital Markets, Marc Chandler, menilai bank sentral tidak sedang mempertahankan nilai tukar tertentu, namun pasar kemungkinan akan terus menguji seberapa besar komitmen otoritas moneter.
Menurut dia, pasar masih menunggu faktor fundamental yang dapat membenarkan pergerakan yen selanjutnya, terutama melalui data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat dan berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Intervensi bersama yang dilakukan Tokyo dan Washington, Jumat, merupakan aksi pembelian yen pertama oleh otoritas Amerika Serikat sejak 1998. Langkah tersebut sempat mendorong dolar menyentuh level terendah terhadap yen dalam tiga bulan sebelum kembali menguat dalam beberapa hari berikutnya.
Pergerakan tersebut menunjukkan sebagian investor masih meragukan efektivitas intervensi di pasar valuta asing dalam mengubah tren pelemahan yen dalam jangka panjang.
Kepala Strategi Valuta Asing G10 CIBC Capital Markets, Jeremy Stretch, menyebut intervensi hanya bersifat sementara apabila tidak didukung perubahan fundamental.
Menurutnya, terdapat tiga faktor yang dapat memperkuat yen secara berkelanjutan, yakni langkah Bank of Japan (BOJ) yang lebih agresif menaikkan suku bunga, menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed, serta harga minyak dunia yang lebih rendah.
Scott Bessent juga mengatakan kepada stasiun televisi publik NHK bahwa dia yakin Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan mengambil kebijakan terbaik bagi perekonomian Jepang. Pernyataan tersebut semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 September.
Analis Group, Joel Kruger, mengatakan risiko intervensi lanjutan masih cukup tinggi apabila yen kembali mengalami pelemahan yang tidak teratur.
Namun, dia menilai, pengalaman historis menunjukkan intervensi umumnya hanya mampu memperlambat laju depresiasi mata uang dan jarang mengubah tren jangka panjang tanpa adanya perubahan fundamental ekonomi.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (Indeks DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama turun 0,16 persen ke posisi 99,70 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam enam pekan, Senin.
Depresiasi dolar dipicu meredanya permintaan aset aman setelah harga minyak kembali bergerak di sekitar USD80 per barel dan Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya telah menggelar pembicaraan yang "sangat baik" dengan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan optimisme bahwa ketegangan geopolitik dapat segera mereda.
Kejatuhan harga minyak juga mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada pertemuan September. Peluang kenaikan suku bunga turun menjadi di bawah 60 persen, Rabu, dibandingkan mendekati 70 persen pada awal pekan.
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Kansas City Jeff Schmid menegaskan inflasi di Amerika Serikat masih terlalu tinggi sehingga kebijakan moneter yang lebih ketat tetap diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen yang ditetapkan bank sentral.
Di pasar mata uang utama lainnya, euro menguat 0,17 persen menjadi USD1,1552, sementara poundsterling naik tipis 0,09 persen ke level USD1,3465. (Reuters/AI)
Sumber : Admin