Greenback Dekati Level Tertinggi 10 Bulan di Tengah Ketegangan Iran
Monday, March 16, 2026       08:42 WIB
  • Dolar dekati kevel tertinggi 10 bulan menjelang rapat bank sentral, dipengaruhi konflik AS-Israel vs Iran.
  • Pasar fokus dampak minyak terhadap inflasi dan ekonomi global.
  • Dolar Australia naik, yen tetap lemah.

Ipotnews - Dolar AS bertahan dekati level tertinggi 10 bulan, Senin, di tengah kesiapsiagaan investor menjelang serangkaian rapat bank sentral dunia di bawah bayang-bayang perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Setidaknya delapan bank sentral, termasuk Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan, dijadwalkan mengadakan pertemuan pekan ini untuk menetapkan suku bunga. Ini menjadi pertemuan kebijakan pertama sejak konflik Timur Tengah pecah, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Senin (16/3).
Fokus utama pasar adalah bagaimana perumus kebijakan menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Carol Kong, analis Commonwealth Bank of Australia, menekankan bahwa perang ini menghadirkan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi sekaligus risiko kenaikan inflasi. "Respons bank sentral akan sangat tergantung pada konteks terbaru, khususnya apakah inflasi berada di atas, sesuai, atau di bawah target," kata Kong.
Menjelang pertemuan tersebut, dolar sedikit menurun dari kenaikan pekan lalu, sementara euro sedikit menguat 0,14% menjadi USD1,1433, setelah sempat menyentuh level terendah 7,5 bulan.
Poundsterling naik 0,17% jadi USD1,3245, meski masih mendekati level terendah 3,5 bulan yang tercatat Jumat lalu. Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, sedikit turun ke 100,20, namun tetap berada di dekat level tertinggi 10 bulan.
Presiden AS Donald Trump, Minggu, menegaskan bahwa negara-negara lain harus membantu mengamankan Selat Hormuz. Dia menyatakan Washington tengah berunding dengan beberapa negara untuk mengawasi jalur pengiriman minyak dan gas yang strategis ini.
Trump juga memperingatkan dalam wawancara dengan  Financial Times  bahwa masa depan NATO bisa "sangat buruk" jika sekutu gagal membantu membuka Selat Hormuz.
Kondisi ini sedikit menekan harga minyak, namun pasar tetap bergejolak karena ketegangan geopolitik tinggi dan ketidakpastian mengenai kapan perang, yang kini memasuki pekan ketiga, akan berakhir.
Jorry Noeddekaer, analis Polar Capital, menilai kemungkinan perubahan arah kebijakan bank sentral di seluruh dunia sangat terbatas, meski skenario dasarnya adalah perang relatif singkat.
Dolar Australia melesat 0,55% menjadi USD0,7019, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia pada Selasa.
Pasar kini memperkirakan peluang 74% bahwa RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kong menambahkan, "Kami memproyeksikan dua kali kenaikan lagi, satu minggu ini dan satu lagi pada Mei. Inflasi di Australia sudah tinggi sebelum konflik Timur Tengah, sehingga lonjakan harga energi baru akan semakin meningkatkan risiko inflasi."
Yen Jepang tetap lemah di dekat level 160 per dolar, terakhir tercatat 159,44. Tekanan terhadap yen disebabkan ketergantungan Jepang yang tinggi pada energi dari Timur Tengah, serta ketidakpastian kebijakan Bank of Japan akibat perang.
Naomi Fink, analis Amova Asset Management, mengatakan, "Risiko utama bagi Jepang bukan hanya harga minyak tinggi, tapi juga memburuknya neraca perdagangan akibat biaya impor energi dan logistik, diperparah oleh pelemahan yen dan keterbatasan fleksibilitas kebijakan moneter."
Di tempat lain, dolar Selandia Baru menguat 0,47% menjadi USD0,5803, sementara yuan di pasar offshore naik tipis ke posisi 6,9002 per dolar.
Pejabat ekonomi AS dan China menggelar pertemuan di Paris, Minggu, membahas potensi kesepakatan di bidang pertanian, mineral kritis, dan perdagangan terkelola, yang nantinya akan dipertimbangkan oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing. (Reuters/AI)

Sumber : Admin