- Dolar AS kuat karena ketegangan Teluk dan harga minyak tinggi.
- Yen mendekati 160 per dolar, memicu kekhawatiran intervensi Jepang.
- Data jasa AS mendukung ekspektasi suku bunga Fed stabil.
Ipotnews - Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan, Kamis, ditopang meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk yang menekan selera risiko investor. Sementara itu, yen bergerak di sekitar level psikologis 160 per dolar AS yang kembali memicu kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan intervensi otoritas Jepang.
Ketegangan meningkat setelah serangan Iran ke Kuwait yang merusak bandara negara tersebut dan melukai puluhan orang, Rabu. Di saat yang sama, militer Amerika Serikat melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz, yang semakin memperumit prospek tercapainya solusi diplomatik atas konflik yang tengah berlangsung, demikian laporan Reuters, di Hong Kong, Kamis (4/6).
Meski Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata, pasar menilai peluang perdamaian yang lebih luas masih sulit tercapai. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan pada akhirnya memperkuat permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama termasuk yen dan euro, naik tipis ke 99,45, mendekati level terkuat sejak 7 April, pada sesi sebelumnya.
Menurut Sim Moh Siong, analis OCBC , status dolar sebagai aset aman kembali menguat seiring kenaikan harga minyak dan imbal hasil global di tengah ketegangan geopolitik.
"Tidak ada alasan kuat untuk bersikap bearish terhadap dolar AS," ujarnya, seraya menambahkan bahwa OCBC mempertahankan pandangan netral dengan ekspektasi dolar yang kuat namun bergerak dalam rentang terbatas.
Dari sisi data ekonomi, survei menunjukkan indeks harga yang dibayar oleh sektor jasa Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun pada bulan lalu. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga tahun depan.
Di pasar mata uang lainnya, euro menguat 0,1% ke level USD1,1609, setelah survei Reuters menunjukkan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga deposito menjadi 2,25% pada 11 Juni untuk menekan inflasi.
Poundsterling bergerak datar di USD1,3427. Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko tercatat stabil di USD0,7129 setelah data memperlihatkan neraca perdagangan Australia kembali mencatat surplus sepanjang April. Dolar Selandia Baru naik 0,3% menjadi USD0,5875, pulih dari posisi terendah satu minggu.
Yen Jepang diperdagangkan di 159,92 per dolar, sedikit menguat dari posisi sebelumnya yang sempat menembus level 160 untuk pertama kalinya sejak 30 April. Level tersebut secara luas dipandang pasar sebagai batas kritis yang dapat memicu intervensi otoritas Jepang.
Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, juga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juni dengan pergeseran sikap kebijakan yang lebih hawkish di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi dari konflik Iran.
"Pendekatan hawkish semakin menguat, termasuk kekhawatiran yang jelas terhadap risiko tertinggal dari inflasi," tulis Naohiko Baba, Kepala Ekonom Jepang di Barclays. "Kami tetap mempertahankan proyeksi kenaikan suku bunga pada Juni." (Reuters/AI)
Sumber : Admin