- Dolar AS menguat 4 hari karena data ekonomi solid dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
- Inflasi dan harga energi naik, memperkuat hawkish the Fed.
- Pound melemah, pasar fokus pada yen, yuan, dan risiko politik global.
Ipotnews - Dolar AS melanjutkan penguatan untuk hari keempat berturut-turut, Kamis, seiring data ekonomi terbaru yang memperkuat pandangan Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Di saat yang sama, investor global tetap mencermati perkembangan pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan China.
Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel meningkat 0,5 persen pada bulan lalu, sesuai dengan ekspektasi ekonom dalam survei Reuters, setelah sebelumnya direvisi turun menjadi kenaikan 1,6 persen pada Maret.
Data ini menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Amerika meski sentimen konsumen cenderung lebih hati-hati, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (14/5) atau Jumat (15/5) pagi WIB.
Chief Market Strategist Corpay di Toronto, Karl Schamotta, menilai tidak adanya kejutan dalam data tersebut menunjukkan ketahanan konsumsi masyarakat Amerika. Dia menyebut, meski konsumen mengaku lebih waspada dalam survei, pada praktiknya mereka tetap membelanjakan uang dengan pola yang relatif stabil.
Data tenaga kerja juga memperkuat pandangan tersebut. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim pengangguran mingguan naik 12.000 menjadi 211.000, sedikit di atas ekspektasi 205.000, namun masih konsisten dengan kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.
Sementara itu, harga impor Amerika melesat 1,9 persen pada bulan lalu, jauh di atas perkiraan 1,0 persen. Lonjakan ini terutama didorong kenaikan harga bahan bakar, terbesar dalam empat tahun terakhir, memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi kembali menguat setelah data harga konsumen dan produsen sebelumnya juga menunjukkan peningkatan tajam.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,37 persen ke posisi 98,83. Euro melemah 0,29 persen menjadi USD1,1676. Dolar AS berada di jalur penguatan harian terpanjang sejak akhir Maret.
Pasar mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed tahun ini, bahkan meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada 2027. Tekanan inflasi yang dipicu harga energi akibat perang di Iran, serta terganggunya jalur perdagangan Selat Hormuz, turut memperkuat pandangan tersebut.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Desember naik menjadi 36,9 persen, dari sebelumnya 22,5 persen pekan lalu.
Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid, menyebut inflasi sebagai risiko terbesar bagi ekonomi Amerika, meski dia menilai perekonomian masih menunjukkan ketahanan yang kuat dan pasar tenaga kerja tetap stabil.
Di sisi kebijakan internal, Gubernur Fed Stephen Miran mengumumkan rencana pengunduran dirinya menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai Chairman Fed, langkah yang membuka ruang bagi perubahan komposisi dewan bank sentral.
Di pasar energi, harga minyak bergerak relatif stabil. Minyak mentah WTI menguat 0,15 persen menjadi USD101,17 per barel, sementara Brent naik tipis 0,09 persen ke USD105,72 per barel. Kenaikan ini tertahan oleh laporan media pemerintah Iran yang menyebut sekitar 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz, meski pasar masih khawatir terhadap keamanan jalur pasokan energi.
Harga minyak dan dolar sempat melemah sesaat setelah laporan Financial Times menyebut Arab Saudi mengusulkan pakta non-agresi di Timur Tengah yang melibatkan Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran geopolitik.
Presiden China Xi Jinping memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa penanganan yang salah atas perselisihan kedua negara mengenai Taiwan dapat mendorong hubungan Beijing-Washington ke "tempat yang berbahaya," saat kedua pemimpin bertemu untuk KTT yang dipantau ketat.
Dolar tetap stabil di 6,786 versus yuan China di pasar offshore.
Namun terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,22 persen menjadi 158,19, seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan ketat Bank of Japan. Pejabat BOJ Kazuyuki Masu menegaskan pentingnya kenaikan suku bunga jika tidak ada tanda pelemahan ekonomi yang jelas, sementara spekulasi intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan yen kembali meningkat.
Poundsterling Inggris melemah tajam 0,94 persen ke USD1,3395, mencatat penurunan harian terbesar sejak awal September dan menjadi kejatuhan empat hari berturut-turut.
Tekanan pada pound terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris, setelah Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan internal menyusul pengunduran diri salah satu rival utamanya di pemerintahan. (Reuters/AI)
Sumber : Admin