- Dolar menguat 0,2% terhadap yen meski pasar tetap melihat peluang 80% kenaikan suku bunga BOJ Desember; penguatan sempat tertahan isu Kevin Hassett sebagai kandidat dovish bos the Fed.
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed pada 10 Desember naik ke 87%, sementara prospek pertumbuhan AS menopang permintaan dolar.
- Euro naik tipis setelah inflasi zona euro menghangat ke 2,2%, sedangkan pound stabil usai BOE memangkas kewajiban modal bank.
Ipotnews - Dolar AS kembali menguat terhadap yen, Selasa, pulih dari aksi jual sehari sebelumnya, meski pasar masih memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) pada Desember. Sementara itu, euro naik tipis setelah data menunjukkan inflasi zona euro sedikit lebih panas dari perkiraan.
Penguatan dolar sempat tertekan di penghujung sesi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa "calon potensial bos Federal Reserve" hadir ketika dia memperkenalkan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, dalam sebuah pertemuan.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan akan mengumumkan pengganti Jerome Powell sebagai pemimpin the Fed pada awal tahun depan, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (2/12) atau Rabu (3/12) pagi WIB.
Hassett dipandang banyak investor sebagai sosok yang condong dovish, sehingga pencalonannya berpotensi membebani dolar.
Pada penutupan, dolar menguat 0,2% terhadap yen ke posisi 155,845, setelah pada sesi Senin sempat menyentuh level terendah dua pekan. Pelemahan sebelumnya terjadi setelah lelang obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menarik minat tertinggi sejak September.
"Kita pada dasarnya kembali ke posisi sebelum komentar Gubernur BOJ Kazuo Ueda kemarin, yang agak membingungkan mengingat pasar swap masih memperkirakan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga Desember," kata Michael Brown, analis Pepperstone.
Awal pekan ini, saham, obligasi, kripto, dan dolar serempak jatuh setelah Ueda menyatakan BOJ akan mempertimbangkan "untung dan rugi" kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan berikutnya. Komentar itu mendorong imbal hasil surat utang Jepang bertenor dua tahun menembus 1% untuk pertama kalinya sejak 2008 dan mengguncang pasar obligasi global.
"Bagi saya, ini menunjukkan segalanya masih sangat didorong oleh USD," ujar Brown. Dia menambahkan bahwa tekanan pada dolar akibat ekspektasi Hassett menjadi bos the Fed mereda pada Selasa, ketika pelaku pasar kembali fokus pada prospek pertumbuhan Amerika Serikat yang tetap solid, meski peluang pemangkasan suku bunga 25 bps pekan depan sangat besar.
"Selama tidak ada narasi kuat yang mengubah arah pasar, dolar tetap menjadi 'kemeja kotor yang paling bersih' dan menarik permintaan yang sehat," katanya.
Data yang dirilis Senin menunjukkan sektor manufaktur Amerika melemah lebih dari perkiraan, meningkatkan tekanan bagi the Fed untuk memangkas suku bunga bulan ini.
Probabilitas pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 10 Desember kini mencapai 87%, naik dari 63% sebulan lalu, menurut FedWatch Tool CME Group.
Inflasi Menghangat
Euro naik 0,1% menjadi USD1,1624 setelah inflasi di 20 negara pengguna euro naik menjadi 2,2% pada November dari 2,1% pada bulan sebelumnya -- kenaikan kecil yang dinilai tidak mengkhawatirkan bagi Bank Sentral Eropa (ECB).
Inflasi zona euro saat ini berada sangat dekat dengan target 2% ECB, kata perumus kebijakan Joachim Nagel dalam wawancara yang dipublikasikan Selasa.
"Data ini muncul saat sebagian pihak memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh ECB, meski tampaknya siklus pelonggaran mereka sudah berakhir," ujar Joshua Mahony, analis Scope Markets.
Poundsterling bergerak datar di USD1,3211, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi satu bulan. Bank of England memotong jumlah modal yang wajib disimpan bank sebagai upaya meningkatkan penyaluran kredit dan mendorong ekonomi -- pemangkasan pertama sejak krisis keuangan. (Reuters/AI)
Sumber : Admin