Gencatan Senjata Amerika-Iran Bertahan, Greenback Melemah Tipis
Wednesday, May 06, 2026       04:45 WIB
  • Dolar AS melemah tipis di tengah ketidakpastian geopolitik.
  • Yen volatil karena dugaan intervensi Jepang.
  • Minat aset berisiko mulai meningkat.

Ipotnews - Dolar AS melemah, Selasa, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, sementara mata uang yen bergerak terbatas setelah diduga terjadi intervensi oleh otoritas Jepang pekan lalu.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, tercatat turun 0,03% ke posisi 98,437, setelah naik 0,3% pada sesi Senin, demikian laporan  Reuters,  di New York, Selasa (5/5) atau Rabu (6/5) pagi WIB.
Euro menguat tipis 0,1% menjadi USD1,17005, sementara poundsterling juga naik 0,1% jadi USD1,35510.
Analis Scotiabank, Shaun Osborne, menyebut pasar saat ini berada dalam fase stagnan karena minimnya katalis baru. Dia menilai, meski sempat muncul kekhawatiran gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dapat runtuh, pasar tidak bereaksi agresif setelah Presiden AS Donald Trump tidak melanjutkan eskalasi militer baru.
Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku, meski sebelumnya terjadi baku tembak di kawasan Teluk terkait perebutan kontrol Selat Hormuz.
Militer AS juga melaporkan dua kapal dagang berhasil melintasi selat itu dengan pengawalan kapal perang, meski Iran membantah klaim tersebut.
Osborne menambahkan, pasar kemungkinan juga dipengaruhi faktor politik global lainnya, termasuk rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping, yang membuat investor cenderung menahan posisi risiko.
Dari sisi ekonomi, data menunjukkan defisit perdagangan Amerika Serikat melebar sepanjang Maret. Kenaikan impor, terutama terkait investasi kecerdasan buatan (AI), melampaui peningkatan ekspor yang sebagian didorong oleh pengiriman energi di tengah konflik Timur Tengah.
Osborne menilai dolar AS masih tergolong kuat dalam perspektif jangka panjang, namun masih ada potensi pelemahan dalam beberapa bulan ke depan.
Versus yen, dolar AS menguat 0,4% jadi 157,85, setelah sebelumnya sempat melemah tajam sejak Kamis lalu akibat dugaan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Laporan menyebutkan Tokyo diduga telah menggelontorkan sekitar USD35 miliar untuk menopang yen.
Meski demikian, banyak analis menilai intervensi tersebut hanya berdampak jangka pendek, mengingat lemahnya fundamental yen akibat suku bunga Jepang yang sangat rendah dan kesenjangan imbal hasil dengan negara maju lainnya.
Ketegangan energi global akibat perang juga turut memperburuk tekanan terhadap mata uang Jepang itu.
"Dibutuhkan intervensi besar lain untuk benar-benar menekan dolar lebih jauh," ujar Osborne.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia menguat 0,3% ke posisi USD0,7187 setelah bank sentral negara tersebut kembali menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya berturut-turut guna menekan laju inflasi.
Namun, langkah tersebut diiringi revisi naik proyeksi inflasi serta penurunan prospek pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja akibat tekanan harga energi global.
Analis StoneX, Matt Simpson, menyatakan kebijakan tersebut tergolong hawkish, meski masih membuka peluang tambahan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Di sisi lain, dolar AS melemah terhadap mata uang berisiko, turun 0,8% versus peso Meksiko dan hampir 0,7% atas rand Afrika Selatan, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko di tengah stabilisasi pasar. (Reuters/AI)

Sumber : Admin