- Aset emerging market melonjak setelah gencatan senjata AS-Iran menekan harga minyak dan memicu minat pada aset berisiko.
- Indeks MSCI EM melonjak 4,3%, mata uang naik 0,8%; Brent sempat jatuh 16% ke SD91,70 per barel dan obligasi menguat.
- Optimisme global meningkat dengan harapan pembukaan Selat Hormuz dan peluang pemangkasan suku bunga The Fed kembali menguat.
Ipotnews - Nilai aset emerging market meningkat setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata. Harga minyak anjlok dan kembali memicu minat terhadap aset berisiko.
Laman Bloomberg melaporkan, indeks MSCI saham EM meloncat 4,3% pada Rabu siang, sementara indeks mata uang EM meningkat 0,8%. Harga minyak mentah Brent sempat menukik turun 16% menjadi USD91,70per barel. Obligasi juga menguat.
Penguatan permintaan terhadap aset EM ini merupakan bagian dari reli global yang dipicu oleh kesepakatan gencatan senjata dua minggu, yang diharapkan akan membuka kembali Selat Hormuz. Penurunan harga minyak juga menghidupkan kembali harapan bahwa Federal Reserve akan melanjutkan pemangkasan suku bunga akhir tahun ini.
"Negara-negara dengan beta tinggi yang sempat tertekan belakangan ini bisa diuntungkan," termasuk Afrika Selatan, Chile, serta sebagian besar importir minyak di EM Asia - khususnya Indonesia dan Korea Selatan," kata Brendan McKenna, ekonom dan ahli strategi EM di Wells Fargo.
"Ini berdampak positif bagi EM saat ini, tetapi jika tidak ada kemajuan, premi risiko geopolitik bisa kembali tercermin dalam harga aset EM dalam waktu dekat," tambahnya seperti dikutip Bloomberg.
Di Asia, mata uang negara pengimpor minyak bersih seperti won Korea, baht Thailand, dan peso Filipina memimpin penguatan terhadap dolar. Rand Afrika Selatan sempat melonjak hingga 2,4% terhadap dolar AS, sementara peso Meksiko melaju 1,2%.
"Ujian sebenarnya adalah di mana harga minyak akan stabil seiring kelanjutan negosiasi," kata Kerry Craig, strategist pasar global di JPMorgan Asset Management. "Harga minyak belum cukup tinggi untuk menghancurkan permintaan, tetapi kemungkinan tetap mempertahankan premi risiko dan berada jauh lebih tinggi dibanding awal tahun," imbuhnya.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi acuan India tenor 10 tahun turun hingga 13 basis poin - penurunan terbesar sejak 2022 - menjadi 6,91%. Imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun turun 6 basis poin, sementara obligasi Korea tenor 10 tahun turun 12 basis poin menjadi 3,64%. (Bloomberg/AI)

Sumber : admin