Fitch: Kerusuhan di Indonesia Berpotensi Tekan Anggaran dan Pertumbuhan Ekonomi
Wednesday, September 03, 2025       15:35 WIB
  • Risiko fiskal & ekonomi: Kerusuhan dan unjuk rasa berpotensi menekan anggaran hingga mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi.
  • Ketegangan sosial berlanjut: Fitch menilai akar ketidakpuasan publik terkait biaya hidup dan ekonomi belum terselesaikan.
  • Dampak investasi & peringkat: Kerusuhan berkepanjangan bisa melemahkan FDI dan meningkatkan ketergantungan pada aliran portofolio.

Ipotnews - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menilai gelombang unjuk rasa yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia berpotensi menimbulkan tekanan terhadap anggaran negara, serta mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan pernyataan resmi yang dirilis dari Hong Kong, Rabu (3/9), Fitch menyebut kerusuhan yang disertai kekerasan dapat berdampak negatif pada profil peringkat Indonesia, terutama jika pemerintah merespons dengan peningkatan belanja besar-besaran untuk meredakan ketegangan sosial.
Kondisi tersebut, menurut Fitch, bisa menambah risiko terjadinya penyimpangan fiskal dari target anggaran yang telah ditetapkan. Seperti diketahui, aksi demonstrasi bermula dari penolakan terhadap rencana kenaikan tunjangan anggota DPR, namun memanas dan terjadi bentrokan dengan apparat.
Kamudian, pemerintah mencabut beberapa kebijakan kontroversial, termasuk kenaikan tunjangan tersebut. Meski demikian, Fitch menilai bahwa potensi ketegangan sosial tetap ada, karena persoalan yang lebih mendalam belum terselesaikan.
"Unjuk rasa ini mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap biaya hidup yang meningkat dan lemahnya kondisi ekonomi di sebagian besar masyarakat," tulis Fitch dalam keterangannya yang dikirim melalui surat elektronik.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang mengalihkan belanja publik untuk membiayai program prioritas, seperti program makan gratis, juga disebut semakin memperburuk ketegangan. Perubahan undang-undang pada Maret 2025 yang melonggarkan pembatasan keterlibatan militer dalam politik sebelumnya juga memicu demonstrasi besar.
Fitch mengingatkan, kerusuhan yang berkepanjangan dapat melemahkan sentimen bisnis dan konsumen, sehingga menghambat investasi asing langsung (FDI) pada saat Indonesia tengah berupaya menarik peluang dari pergeseran rantai pasok global.
Berkurangnya arus FDI, sebut Fitch, bisa meningkatkan ketergantungan Indonesia pada aliran portofolio yang lebih fluktuatif untuk menutup defisit transaksi berjalan, yang diproyeksikan mencapai 1,3 persen dari PDB pada 2025 dan sebesar 1,7 persen pada 2026.
Kendati demikian, Fitch menilai bahwa risiko tekanan pembiayaan eksternal masih terbatas, karena defisit transaksi berjalan Indonesia relatif rendah, serta ditopang cadangan devisa yang besar.
Pada Maret 2025, Fitch mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek Stabil. Namun, Fitch menyoroti indikator tata kelola Indonesia, terutama dalam aspek stabilitas politik, masih lebih lemah dibanding negara-negara lain dengan peringkat serupa, seperti India dan Filipina.(Budi/AI)

Sumber : admin