- Rupiah ditutup melemah 34 poin atau 0,19% ke Rp18.014 per dolar AS, tertekan serangan terbaru AS terhadap Iran dan eskalasi ketegangan di Selat Hormuz.
- Tekanan eksternal bertambah seiring yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,525%, sementara pasar menanti notulen FOMC untuk membaca arah kebijakan The Fed.
- Dari domestik, APBN Semester I-2026 defisit Rp196,5 triliun atau 0,76% PDB, sedangkan cadangan devisa Juni naik menjadi USD145,6 miliar.
Ipotnews - Serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan global dan menekan nilai tukar rupiah hingga ditutup melemah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Mengutip data Bloomberg, pada Rabu (8/7) pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup melemah 34 poin atau 0,19% ke level Rp18.014 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Selasa sore (7/7) di posisi Rp17.980 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah berlangsung seiring penguatan indeks dolar AS setelah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran yang bertujuan memberikan apa yang digambarkan sebagai "biaya berat" atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.
"Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Serangan tersebut terjadi tidak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional. Langkah itu berpotensi membuat pasar minyak semakin ketat dalam beberapa pekan mendatang.
Iran juga dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz pada pekan ini. Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu ketidakpastian lebih besar terhadap status jalur perairan strategis tersebut.
"Namun, babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti," ujar Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%.
Meski demikian, pasar uang masih skeptis terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Juli. Sementara untuk September, probabilitas kenaikan suku bunga mendekati 60%, berdasarkan CME FedWatch Tool.
"Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed, sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian," ucap Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah dipengaruhi perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ). Hingga Semester I-2026, APBN mengalami defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Realisasi pendapatan negara tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.
Secara tahunan, defisit APBN Semester I-2026 lebih rendah 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84% terhadap PDB. Namun, sejumlah ekonom menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal peringatan dini terhadap meningkatnya tekanan fiskal.
Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar dinilai lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara sehingga berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026, meski masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.
"Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tetapi tetap berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir," tutur Ibrahim.
BI menjelaskan kenaikan cadangan devisa ditopang penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.(Adhitya/AI)
Sumber : admin