Eropa Jatuhkan Sanksi Baru untuk Rusia, Minyak Berjangka Terangkat
Friday, July 18, 2025       14:37 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Jumat, setelah Uni Eropa menyetujui sanksi baru terhadap Rusia, yang juga didukung oleh kekhawatiran pasokan menyusul serangan drone di ladang minyak Irak utara dan fundamental pasar yang ketat.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 39 sen, atau 0,56%, menjadi USD69,91 per barel pada pukul 14.08 WIB, demikian laporan  Reuters  dan  Bloomberg,  di Singapura, Jumat (18/7).
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, meningkat 42 sen, atau 0,62%, menjadi USD67,96 per barel.
Uni Eropa mencapai kesepakatan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia atas perangnya di Ukraina, dengan sejumlah langkah yang bertujuan untuk memberikan pukulan lebih lanjut bagi industri minyak dan energi Rusia.
Paket sanksi terbarunya itu akan menurunkan batas harga G7 bagi minyak mentah Rusia menjadi USD47,6 per barel, kata para diplomat kepada  Reuters. 
Serangan pesawat nirawak selama empat hari di ladang minyak Kurdistan Irak yang menghentikan separuh produksi wilayah tersebut juga mendukung harga, mendorong kedua kontrak melonjak USD1 pada sesi Kamis.
Selain itu, permintaan perjalanan musiman menopang pasar. Dalam dua pekan pertama Juli, permintaan minyak global rata-rata mencapai 105,2 juta barel per hari (bph), naik 600.000 bph dari tahun sebelumnya, dan sebagian besar sejalan dengan perkiraan, ungkap analis JPMorgan.
"Harga minyak mentah relatif stabil minggu ini, tanpa pergerakan signifikan karena dampak peningkatan pasokan OPEC + diimbangi oleh permintaan musiman yang kuat di Amerika," kata analis LSEG , Anh Pham.
Persediaan minyak mentah Amerika menyusut turun lebih besar dari estimasi, 3,9 juta barel, pekan lalu dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat  Reuters  yang memperkirakan penurunan 552.000 barel, menurut data pemerintah, Rabu.
Permintaan di Asia juga menguat karena pengilangan minyak kembali beroperasi setelah pemeliharaan di tengah puncak permintaan musiman.
Fundamental minyak jangka pendek kemungkinan akan tetap mendukung, dengan pasar diperkirakan masih cukup ketat sepanjang kuartal ini, sebelum pasokannya membaik sejak tiga bulan terakhir 2025, ungkap analis ING.
Namun, ketidakpastian seputar kebijakan tarif Amerika, yang tampaknya tidak akan terselesaikan hingga setelah 1 Agustus, membebani pasar. Rencana produsen minyak utama untuk menghapus pemangkasan output juga akan menambah pasokan seiring berakhirnya permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara. Untuk pekan ini, Brent dan WTI masing-masing turun 0,30% dan 0,42%.
Produksi minyak di wilayah semi-otonom Kurdistan dipangkas dari sekitar 280.000 bph menjadi antara 140.000 dan 150.000 bph, tutur dua pejabat energi.
Pemerintah menunjuk milisi yang didukung Iran sebagai kemungkinan sumber serangan minggu ini di ladang minyak wilayah tersebut, meski belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
Meski adanya serangan, pemerintah federal mengatakan pada Kamis bahwa Kurdistan Irak akan melanjutkan ekspor minyak melalui jaringan pipa ke Turki setelah penghentian selama dua tahun. (ef)

Sumber : Admin