Eramet Hentikan Produksi Nikel di Indonesia Usai Kuota Dipangkas 70%
Thursday, June 04, 2026       14:01 WIB
  • Weda Bay Nickel hentikan produksi karena kuota nikel 2026 dipangkas 70%.
  • Produksi turun dari 42 juta ton menjadi 12 juta ton.
  • Pasokan berkurang, potensi impor dan biaya naik.

Ipotnews - Anak perusahaan Eramet di Indonesia menghentikan produksi bijih nikel setelah keputusan pemerintah menurunkan kuota penambangan 2026 sebesar 70% dibandingkan tahun sebelumnya membuat operasi perusahaan tidak dapat berlanjut, kata CEO Jerome Baudelet.
Weda Bay Nickel, usaha patungan Eramet dengan Tsingshan Group asal China dan PT Aneka Tambang Tbk (), awalnya menerima izin produksi sebesar 12 juta metrik ton basah tahun ini, turun dari 42 juta ton yang diproduksi pada 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan pasokan dan mendukung harga nikel di pasar, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Kamis (4/6).
"Kuota penambangan kami sudah habis, jadi sekarang kami sedang berdiskusi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mendapatkan perpanjangan izin," ujar Baudelet kepada awak media di sela-sela konferensi industri.
Produksi dihentikan sejak akhir Mei, sementara perusahaan telah mengurangi jumlah tenaga kerja dan memasuki fase pemeliharaan fasilitas.
Baudelet menjelaskan bahwa revisi kuota penambangan, yang dikenal sebagai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya ( RKAB ), biasanya dilakukan sebelum akhir Juli setiap tahun.
"Kami memproduksi 42 juta ton tahun lalu, jadi jelas kami bisa mengajukan jumlah yang sama," papar dia, menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah.
"Kami hanya berharap pemerintah akan memberi kami cukup pasokan agar kami dapat mempertahankan operasi," kata Baudelet.
Jika kuota tambahan tidak diberikan, pasokan nikel dari Weda Bay Nickel bisa berkurang hingga 30 juta ton, yang sebelumnya menyumbang sekitar sepertiga dari total 120 juta ton bijih nikel yang diolah di Indonesia Weda Bay Industrial Park ( IWIP ), salah satu pusat produksi nikel terbesar di Indonesia.
"Kalau produksi dipotong dan tidak diberikan perpanjangan, impor dari Filipina akan meningkat tajam karena pasokan bijih nikel di IWIP tidak mencukupi, yang akan berdampak pada biaya tinggi," tutur Baudelet. (Reuters/AI)

Sumber : Admin
An error occurred.