Emas Turun Pasca Serangan Iran, Dolar Justru Raih Kepercayaan Sebagai Safe Haven
Wednesday, March 04, 2026       15:01 WIB
  • Emas turun 4% karena dolar menguat sebagai safe haven seiring ketegangan Timur Tengah.
  • Penguatan dolar dipicu lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan energi yang berdampak pada Eropa dan Asia.
  • Investor lebih memilih likuiditas dolar, dengan pasar saham global berbalik arah.

Ipotnews - Salah satu pergerakan pasar yang paling mencolok dalam minggu penuh ketegangan akibat konflik Timur Tengah adalah bagaimana logam mulia yang paling jelas dianggap sebagai "safe haven" - emas - justru gagal memenuhi harapan.
Menurut Mike Dolan, kolumnis  Reuters,  alih-alih berbondong-bondong membeli emas, investor malah berlari menuju likuiditas dolar, menjual aset yang sebelumnya mengalami lonjakan spekulatif sebelum serangan akhir pekan lalu.
Tiga hari setelah serangan terhadap Iran, Sabtu, minat awal terhadap logam mulia memudar dengan cepat. Dolan mengatakan, pada Selasa, terjadi pembalikan besar, dengan harga emas tiba-tiba merosot 4% dan perak anjlok hingga 10%.
Kenaikan dolar yang kembali menjadi pilihan utama "safe haven", yang membuat greenback menguat meski ada kerugian besar di pasar saham dan obligasi Amerika Serikat, disebut-sebut sebagai alasan utama di balik pembalikan harga emas ini, ungkap Dolan.
Baik dana publik maupun swasta di kawasan Timur Tengah yang kini menghadapi serangan balasan dari Iran mungkin lebih memilih likuiditas dolar. "Lonjakan harga minyak dan gas dalam denominasi dolar juga dapat mendorong permintaan akan uang tunai dalam mata uang cadangan dunia ini," ujar Dolan, seperti dilansir  Reuters,  di London, Rabu (4/3).
Namun, alasan utama menguatnya dolar, menurut Dolan, kemungkinan besar adalah dampak negatif terhadap ekonomi besar Eropa dan Asia dari gangguan pasokan energi yang berkepanjangan serta lonjakan harga, dibandingkan Amerika yang relatif terlindung.
"Apa pun penyebabnya, menguatnya dolar jelas mengurangi daya tarik emas," kata dia.
Namun, ada beberapa alasan lain yang dapat menjelaskan mengapa logam kuning tidak menunjukkan performa yang diharapkan sejauh ini.
Salah satunya, tutur Dolan, adalah korelasi antara emas dan franc Swiss. Keduanya secara tradisional dianggap sebagai safe haven paling aman di masa-masa penuh tekanan dan cenderung bergerak seiring - terutama karena mata uang lain seperti yen Jepang dan US Treasury telah kehilangan status tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, peringatan luar biasa dari Swiss National Bank, Senin, mengenai intervensi untuk menjual franc dengan cepat membalikkan keuntungan mata uang ini versus dolar dan euro. "Pembalikan perdagangan safe haven ini mungkin telah menambah tekanan pada harga emas," ucap Dolan.
Pergeseran Pola Perdagangan
Penjelasan yang lebih sederhana adalah bahwa investor yang membeli emas dalam euforia spekulatif - yang hampir menggandakan harganya dan mencapai rekor baru sepanjang tahun lalu - kini mulai menjual aset terbaik mereka ketika risiko dan volatilitas meningkat.
Hal ini misalnya selaras dengan pembalikan mendadak dari pasar saham dengan performa terbaik sepanjang 2026. Indeks Kospi Korea Selatan melorot lebih dari 7%, Selasa, setelah Seoul kembali dari liburan, membalikkan hampir 50% lonjakan yang terjadi sepanjang tahun ini.
Emas dan perak adalah pasar dengan performa kedua dan ketiga terbaik pada 2026 sebelum serangan tersebut, setelah Kospi yang luar biasa. Sementara indeks Nikkei Jepang - yang sebelumnya melejit sekitar 15% sebelum akhir pekan lalu - kini melorot lebih dari 4%.
Dengan volatilitas yang meningkat dan kemungkinan guncangan energi lain yang dapat terjadi bagi ekonomi global, menurut Dolan, banyak portofolio mungkin lebih memilih untuk meningkatkan cash dan likuiditas.
Fakta bahwa emas belum menunjukkan kinerjanya sebagai safe haven dalam situasi seperti ini memberi gambaran tentang sifat pembelian dan reli yang terjadi sepanjang 2025 - dan bagaimana itu sangat bergantung pada pembalikan lebih dari satu dekade kekuatan dolar yang bergerak satu arah.
Seperti yang disampaikan Deputi Direktur Pelaksana IMF, Dan Katz, Selasa, perilaku dolar minggu ini menunjukkan bahwa perannya sebagai safe haven tetap ada, dan greenback tetap menjadi "inti dari sistem moneter internasional".
"Emas mungkin masih bisa naik karena alasan lain. Namun, jika lonjakan parabola yang terjadi belakangan ini didorong oleh narasi kiamat mengenai kehancuran dolar, maka pergerakan harga pekan ini bisa memicu pemikiran ulang tentang proyeksi harga emas ke depan," ujar Dolan. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru
Monday, Mar 16, 2026 - 10:31 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 BIPI
Monday, Mar 16, 2026 - 10:26 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 UNTR
Monday, Mar 16, 2026 - 10:25 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 TOSK
Monday, Mar 16, 2026 - 10:24 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of KDTN
Monday, Mar 16, 2026 - 10:20 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of SMRA
Monday, Mar 16, 2026 - 10:19 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 MREI
Monday, Mar 16, 2026 - 10:18 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 ADMR